News
2.666 Hektare Hutan SM Rawa Singkil Hilang dalam Tujuh Tahun
4 jam yang lalu
Yayasan HAkA mencatat kehilangan 2.666 hektare hutan di Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil, Aceh Selatan, dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Data pantauan satelit menunjukkan lonjakan deforestasi yang signifikan, terutama antara tahun 2021 hingga 2023, dengan puncak kehilangan mencapai 832 hektare pada tahun 2023. Fenomena ini menjadi peringatan serius bagi upaya pelestarian salah satu ekosistem lahan gambut paling krusial di Aceh.
Kehilangan tutupan hutan ini tidak hanya mengancam fungsi ekologis gambut, tetapi juga habitat satwa dilindungi seperti orangutan Sumatera. Data terbaru menunjukkan tren kenaikan deforestasi pada tahun 2025, dengan 457 hektare hutan hilang di dalam kawasan konservasi SM Rawa Singkil. Aktivitas pembukaan lahan skala besar terdeteksi di area usulan PT ALIS, yang belum memiliki izin Hak Guna Usaha (HGU).
Dampak Deforestasi di Rawa Singkil
- Lonjakan Deforestasi: Kehilangan hutan meningkat drastis dari 926 hektare pada 2024 menjadi 1.108 hektare pada 2025.
- Aktivitas Ilegal: Pembukaan lahan skala besar terdeteksi di area usulan PT ALIS tanpa izin HGU.
- Ancaman Ekologis: Kerusakan hutan gambut dapat memicu bencana ekologis dan konflik antara manusia dan satwa.
- Habitat Satwa: Orangutan Sumatera dan satwa dilindungi lainnya terancam kehilangan habitat alaminya.
Upaya Pelestarian
- Pengawasan Ketat: Diperlukan pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah deforestasi ilegal.
- Penegakan Hukum: Penegakan hukum yang konsisten diperlukan untuk menghentikan aktivitas pembukaan lahan tanpa izin.
- Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian hutan dan ekosistem gambut.
