News
300 Korban Banjir Bireuen Terima DTH Rp600 Ribu Per Bulan untuk Sewa Rumah
20 Januari 2026 21:40
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen meninggalkan dampak yang cukup parah, dengan 2.646 rumah rusak berat atau hanyut. Sebagai bentuk dukungan pemerintah, sebanyak 300 warga dari dua kecamatan, Peusangan dan Peusangan Siblah Krueng, menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan selama tiga bulan. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Dr Suharyanto, SSos, MM, di Balai Desa Kantor Camat Peusangan.
Bantuan ini ditujukan untuk membantu warga dalam membayar biaya sewa rumah sementara hingga hunian tetap (Huntap) selesai dibangun atau rumah mereka diperbaiki. Total dana yang diterima masing-masing keluarga adalah Rp1.800.000, yang disalurkan melalui rekening tabungan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Detail Penyaluran Bantuan
- Jumlah Penerima: 300 kepala keluarga (KK) dari dua kecamatan di Bireuen.
- Besaran Bantuan: Rp600.000 per bulan selama tiga bulan (Desember 2025, Januari, dan Februari 2026).
- Total Dana per Keluarga: Rp1.800.000.
- Tujuan: Biaya sewa rumah sementara hingga hunian tetap selesai dibangun.
Pernyataan Pejabat
- Bupati Bireuen, H Mukhlis, ST: "Dana ini sangat krusial untuk meringankan beban ekonomi keluarga dan memberi ketenangan dalam menata kembali kehidupan pascabencana."
- Kepala BNPB, Suharyanto: "Tahap pertama sudah disalurkan kepada 314 kepala keluarga, tahap kedua ini 300 kepala keluarga (KK). Dari total 2.646 rumah rusak berat, baru 915 penerima yang memiliki rekening BSI."
Langkah Selanjutnya
- Pemerintah pusat dan daerah tetap bertanggung jawab atas kebutuhan pokok warga terdampak, termasuk sembako dan logistik lainnya.
- Warga diimbau untuk mengambil bantuan sembako di posko BPBD yang tersedia di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa.
- Proses rehabilitasi dan pembangunan hunian tetap diharapkan segera terealisasi untuk mengembalikan kehidupan normal warga Bireuen.
Penyaluran DTH ini diharapkan menjadi langkah awal pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana, tidak hanya membantu warga bertahan secara ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kehadiran negara dalam situasi darurat.
