News
Anak Broken Home di Aceh: Beban Emosional dan Tantangan di Sekolah
13 Februari 2026 08:18
Anak Broken Home di Bangku Sekolah
NELLIANI, M.Pd., Guru SMA Negeri 1 Baitussalam, Aceh Besar, melaporkan dari Banda Aceh
Tidak semua anak melangkah ke sekolah dengan harapan, beberapa di antaranya datang dengan luka batin dan pikiran tak menentu. Salah satunya adalah anak ‘broken home’. Anak yang terpaksa hidup dalam bayang-bayang perceraian, konflik orang tua, kehilangan ayah atau ibu. Mereka duduk di bangku sekolah seperti anak lainnya, tetapi membawa beban emosional yang sering kali luput dari pandangan.
Dalam langkah yang dipaksakan, dalam penampilan yang sering kali berantakan mereka ada. Namun, jiwa raga tidak sepenuhnya ada. Bersekolah, tapi tidak belajar. Hadir di ruang kelas hanya memenuhi daftar hadir (presensi), duduk mendengar, tapi tidak berusaha memahami.
Anak yang kesepian
Anak ‘broken home’ rentan merasakan kesepian. Rasa kehilangan, terasing, dan hampa mendalam karena kurang kasih sayang dan kehangatan rumah. Rumah yang dulunya semarak kini terasa berbeda. Tidak ada lagi rutinitas ibu menyiapkan sarapan atau suara tegas ayah menyuruh bergegas. Tidur kemalaman, bangun kesiangan, mau apa terserah saja, tidak ada lagi yang menghiraukan.
Hidupnya bagai hilang arah. Setiap detik berjalan adalah sunyi yang sulit dijelaskan.
Perilaku di sekolah
Perceraian orang tua dan lingkungan keluarga penuh konflik memberikan konsekuensi serius pada kondisi psikologis. Penelitian menyatakan anak dari orang tua yang bercerai rentan terlibat masalah di sekolah. Meski tidak dimungkiri, beberapa anak ‘broken home’ lebih baik dalam sikap, bahkan berprestasi.
Dari sisi akademik, tantangan yang dihadapi guru adalah motivasi belajar anak-anak ini cenderung menurun. Kehilangan ayah atau ibu sama artinya kehilangan dukungan sehingga membuat semangat bersaing memudar. Anak kesulitan melihat sekolah sebagai prioritas karena tidak ada lagi figur yang selama ini membimbing, menyemangati, dan memberi arah. Pada titik tertentu keadaan itu berisiko mengantarkannya pada kondisi putus sekolah.
Pengalaman tidak menyenangkan di rumah turut memengaruhi aktivitas belajarnya di sekolah. Tidur saat guru menerangkan, sulit fokus, tidak bersemangat, bolos pada jam belajar berujung pada menurunnya nilai. Tiap guru bertanya jawaban selalu tidak jelas.
Prestasi yang sebelumnya baik-baik saja, jadi berantakan karena pikiran terganggu oleh kenyataan pahit di rumah.
Perubahan perilaku anak korban ‘broken home’ biasa ditunjukkan dengan menjadi lebih pendiam, pemurung, bahkan menarik diri dari pergaulan.
Ia berlaku demikian bukan karena tidak ada sebaya yang mau menjadi teman, tetapi karena perasaan malu pada kondisi keluarga sehingga sulit membina hubungan dan merasa nyaman dalam kesendirian.
Hal tersebut juga merupakan mekanisme pertahanan diri akibat trauma, hilangnya rasa aman dan perasaan rendah diri.
Di sisi lain, anak-anak ini cenderung agresif. Kurang menghargai guru, kasar, tidak sopan, marah jika ditegur, bahkan menjadi pemicu kegaduhan.
Perilaku tersebut disebabkan ketidakmampuan mengekspresikan diri dengan nyaman ketika di rumah karena kalah secara kekuatan atau ‘power’. Oleh karena itu, ia melampiaskan emosinya pada teman atau guru. Anak pendiam di rumah, tetapi berubah drastis saat di luar bisa jadi ia sedang mencari perhatian dari lingkungan pun sebagai bentuk protes atas pengalaman tidak menyenangkan yang dihadapi.
Bagi guru, tantangan lain muncul ketika sekolah butuh kerja sama. Namun, orang tua tidak merespons. Mereka terkesan menghindar, saling lempar tanggung jawab saat guru ingin berkomunikasi, seolah persoalan anak bukan hal penting untuk dibicarakan. Padahal, komunikasi guru dengan wali siswa adalah solusi efektif dari setiap masalah anak di sekolah.
Sekolah sebagai ruang aman ‘Broken home’ bukalah akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan membentuk resiliensi, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik. Meski retaknya hubungan orang tua menimbulkan luka mendalam. Namun, anak berhak bahagia, punya asa dan sukses di hidupnya. Jika rumah tidak lagi bisa memberikan rasa aman, sekolah masih punya kesempatan membantunya merawat luka dan menjaga harapan tetap menyala.
Untuk itu, sekolah penting menyediakan lingkungan belajar inklusif, penuh empati, dan mendukung anak bertumbuh secara sehat. Guru harus hadir sebagai figur yang mengayomi, penuh kasih atau sahabat yang tidak mudah menghakimi, yang membantunya membangun kembali kepercayaan diri dan motivasi belajar. Karena sejatinya, sekolah bukan semata ruang transfer pengetahuan, tetapi juga rumah kedua yang mampu menyembuhkan.
