News
Mahasiswi UIN Ar-Raniry Kaji Dinamika Boikot Produk Pro-Israel di Medsos
03 Februari 2026 15:49
Isu boikot produk yang terafiliasi dengan Israel terus menguat di Indonesia seiring berlanjutnya agresi militer Israel terhadap Palestina yang mengarah pada genosida (pembantaian etnis). Fenomena solidaritas kemanusiaan tersebut tidak hanya hadir dalam aksi lapangan, tetapi juga berkembang pesat di ruang digital, khususnya media sosial.
Fenomena di atas mendorong Alya Nazhyfa, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, untuk melakukan penelitian tentang dinamika boikot produk Israel di akun media sosial, terkhusus di Instagram.
Penelitian Alya Nazhyfa
Melalui penelitian dan karya tulis berjudul “Dinamika Boikot Produk Pro-Israel pada Akun Instagram @gerakanbds”, Alya meneliti bagaimana media sosial berfungsi sebagai ruang aktivisme digital dalam membangun kesadaran publik terhadap isu Palestina. Hasil penelitian tersebut ditayangkan di jurnal Da’watuna terindeks Sinta 5. Alya memilih laporan penelitian berbasis jurnal agar terpublikasi dengan baik dan menjadi referensi nasional.
Karya tulis Alya diajukan dalam ujian munaqasyah yang berlangsung pada Selasa, 3 Februari 2026, di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry. Sidang munaqasyah dipimpin oleh Hasan Basri M. Nur PhD, Dr Fitri Meliya Sari, Dr Ade Irma dan Dr Azman. Alya mampu mempertahankan hasil penelitiannya dengan sangat memuaskan.
Dampak dan Strategi Boikot
Penelitian ini berangkat dari meningkatnya seruan boikot terhadap sejumlah merek global yang dinilai memiliki afiliasi atau dukungan terhadap Israel. Di Indonesia, gerakan boikot mendapat respons luas, terutama di kalangan generasi muda. Salah satu medium utama penyebaran pesan boikot tersebut adalah akun Instagram @gerakanbds, yang secara konsisten mengunggah konten edukatif, infografik, dan ajakan solidaritas kemanusiaan.
Dalam kajiannya, Alya menegaskan bahwa Instagram tidak lagi sekadar menjadi media berbagi foto dan video, melainkan telah berkembang menjadi ruang komunikasi ideologis dan perlawanan simbolik. Konten-konten yang disebarkan akun @gerakanbds mengaitkan konsumsi produk sehari-hari dengan realitas penderitaan rakyat Palestina, sehingga mendorong audiens untuk mengambil sikap moral melalui aksi boikot.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan boikot dikemas secara persuasif dan emosional. Unggahan yang memuat data korban sipil, kehancuran infrastruktur Gaza, serta narasi ketidakadilan global terbukti mampu meningkatkan keterlibatan audiens, baik melalui komentar dukungan, tanda suka, maupun penyebaran ulang konten.
Boikot dalam konteks ini tidak semata dipahami sebagai tindakan ekonomi, tetapi sebagai ekspresi keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Media sosial menjadi jembatan antara isu global dan tindakan personal masyarakat.
Relevansi dan Nilai Akademik
Isu Palestina–Israel yang kembali memanas dalam beberapa tahun terakhir menjadi latar kuat penelitian ini. Indonesia, sebagai negara yang secara historis mendukung kemerdekaan Palestina, menunjukkan respons publik yang signifikan. Media sosial menjadi kanal utama dalam menyuarakan solidaritas, terutama di tengah keterbatasan akses masyarakat terhadap informasi lapangan secara langsung.
Dalam perspektif komunikasi dan penyiaran Islam, fenomena ini menunjukkan pergeseran pola dakwah dan aktivisme dari ruang konvensional ke ruang digital. Nilai empati, keadilan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas dikomunikasikan melalui strategi pesan yang disesuaikan dengan karakter media sosial.
Penelitian Alya Nazhyfa tidak hanya relevan secara sosial, tetapi juga memiliki nilai akademik. Artikel ilmiah yang dikembangkan dari penelitiannya telah memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari jurnal ilmiah nasional, menandakan bahwa kajian ini dinilai layak untuk dipublikasikan dan berkontribusi dalam pengembangan keilmuan komunikasi Islam dan studi media.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa isu boikot, yang sering dipahami secara emosional, dapat dianalisis secara sistematis sebagai fenomena komunikasi dengan pola pesan, strategi narasi, dan dampak sosial yang jelas.
Melalui kajian ini, Alya menghadirkan potret mahasiswa yang peka terhadap isu kemanusiaan global dan mampu menjembatani realitas sosial dengan analisis akademik. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi kajian lanjutan tentang aktivisme digital, komunikasi dakwah, serta peran media sosial dalam membentuk sikap publik terhadap konflik Palestina–Israel.
