News
Perempuan Aceh Utara Kunci Pemulihan Pascabencana di Tengah Kerentanan
4 hari yang lalu
Tiga bulan setelah bencana ekologis melanda Aceh pada akhir 2025, banyak penyintas masih hidup dalam kondisi serba terbatas. Sebagian warga masih tinggal di tenda darurat, sementara hunian sementara (huntara) di beberapa lokasi belum sepenuhnya siap atau layak dihuni. Dalam situasi ini, penguatan peran perempuan dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan lingkungan sosial di tengah masa pemulihan pascabencana.
Dalam diskusi yang diadakan oleh Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA) di Dusun Pasi, Desa Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Ketua Presidium BSUIA, Rasyidah, menekankan pentingnya kesabaran, husnuzan, dan tawakal dalam menghadapi bencana. Ia juga mengingatkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berusaha maksimal sebelum menyerahkan hasil kepada Allah.
Kerentanan Perempuan Pascabencana
- Kekerasan Berbasis Gender: Risiko kekerasan terhadap perempuan meningkat pascabencana, termasuk pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
- Akses Terbatas: Kerusakan jalan dan fasilitas membuat perempuan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan mendapatkan layanan.
- Beban Ekonomi: Banyak sumber penghidupan warga rusak, seperti usaha batu bata, mesin jahit, dan sawah yang tertimbun lumpur.
Peran Penting Perempuan
- Dapur Umum: Perempuan menjadi penggerak dapur umum yang menyediakan makanan bagi para penyintas.
- Organisasi Komunitas: Perempuan aktif mencari bantuan dan mengorganisasi komunitas untuk pemulihan.
- Pengetahuan Berharga: Pengalaman perempuan selama bencana dijadikan dasar dalam perencanaan pemulihan.
Tantangan dan Solusi
- Fasilitas Pengungsian: Huntara yang belum memadai memunculkan persoalan perlindungan, seperti ruang kamar terpisah dan sanitasi yang layak.
- Pemanfaatan Teknologi: Peserta didorong untuk menggunakan internet sehat dan positif dalam mengakses informasi kebencanaan.
- Pelaporan Kasus: Masyarakat diminta melaporkan kasus kekerasan yang mengancam keselamatan korban kepada aparat penegak hukum.
Di akhir kegiatan, BSUIA memberikan bantuan kepada warga, seperti mukena, kain sarung, perlengkapan bayi, Al-Qur'an dan Iqra, tasbih, serta paket sembako dari donasi berbagai pihak.
