News
Generasi Hijauku: Merawat Alam, Menjaga Identitas Gayo Lues Aceh
01 Februari 2026 21:52
GAYO LUES - Syahputra Ariga, Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Gayo Lues Se-Indonesia (PMGI), mengatakan upaya membangun kesadaran ekologis tidak cukup hanya dengan seruan moral atau kampanye sesaat. Ini membutuhkan ruang literasi yang mampu menghubungkan pengetahuan, nilai, dan tindakan.
“Alam bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi ruang hidup yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berelasi. Ketika alam rusak, yang hilang bukan hanya fungsi ekologis, tetapi juga jati diri kolektif,” ujar Ariga saat membedah buku Generasi Hijauku (Episode 1) karya Fauzan Azima, di Blangkejeren, Ahad, 1 Februari 2026.
Krisis Lingkungan dan Identitas
Diskusi mengupas bagaimana perubahan cara pandang manusia terhadap alam—dari identitas menjadi komoditas—telah melahirkan berbagai krisis lingkungan. Kerusakan hutan, krisis air, konflik satwa, hingga pertanian yang tidak berkelanjutan dipahami sebagai “luka alam” yang berakar dari luka sosial: keserakahan, ketimpangan, dan hilangnya etika hidup.
Nilai Adat dan Modernitas
Buku ini juga menyoroti memudarnya nilai-nilai adat Gayo seperti Kemali, Sumang, dan Edet yang dahulu berfungsi sebagai pagar moral dalam menjaga relasi manusia dengan alam. Syahputra Ariga menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari krisis nilai. “Adat tidak boleh diposisikan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai nilai hidup yang kontekstual dan relevan dengan tantangan hari ini,” katanya.
Pemuda Gayo dan Inovasi
Dalam konteks modernitas, diskusi menempatkan pemuda Gayo pada posisi strategis. Arus teknologi, media sosial, dan budaya global tidak dipandang sebagai ancaman mutlak, melainkan tantangan yang harus direspons dengan kesadaran identitas. Pemuda dituntut mampu berinovasi tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai ekologis.
Isu Kopi Gayo
Isu kopi Gayo menjadi salah satu bahasan penting. Kopi tidak hanya dipahami sebagai komoditas unggulan, tetapi simbol relasi manusia dengan tanah. Ketika dikelola tanpa etika ekologis, tanah menjadi lelah dan rentan rusak. Sebaliknya, praktik kopi berkelanjutan dapat menjadi jalan kemandirian ekonomi sekaligus pelestarian alam.
Pendidikan Hijau
Lebih jauh, Generasi Hijauku menekankan pendidikan hijau sebagai jalan panjang perubahan. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses di ruang kelas, tetapi juga melalui keluarga, komunitas, dan ruang-ruang literasi. “Literasi adalah jantung perubahan. Dengan membaca, berdiskusi, dan menulis, kesadaran ekologis tumbuh secara kritis, bukan dogmatis,” ujar Syahputra Ariga.
Dimensi Spiritual
Dimensi spiritual turut menjadi landasan penting dalam diskusi. Menjaga alam dipahami sebagai bagian dari iman dan amanah Tuhan. Alam adalah ayat kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Namun, tantangan terbesar adalah ketika pesan moral dan agama sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Tindakan Nyata
Menutup diskusi, buku ini mengajak pembaca melampaui wacana menuju tindakan nyata. Menjadi “Generasi Hijau” berarti berani memulai dari langkah kecil—dari kesadaran diri, komunitas, hingga gerakan kolektif. Seperti ditegaskan pemateri, “Kita bisa mengamalkan semua nilai itu apabila kita yakin dengan iman, mengusahakan dengan ilmu, dan menyampaikan dengan amal. Maka yakin, usaha sampai.”
Bedah buku ini menjadi penegasan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi membaca realitas. Menjaga alam berarti menjaga manusia, budaya, dan harapan generasi masa depan.
