News
CSR PAG Rp2,5 Miliar di Lhokseumawe: Lebih Seremonial atau Dampak Nyata?
3 hari yang lalu
Dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Perta Arun Gas (PAG) sebesar Rp2,5 miliar di Lhokseumawe tahun 2025 lebih banyak dialokasikan untuk kegiatan seremonial dan bantuan sosial jangka pendek. Program seperti santunan anak yatim, bantuan hewan qurban, dan kegiatan jalan sehat kemerdekaan mendapatkan porsi anggaran yang cukup besar, sementara program pemberdayaan ekonomi masyarakat hanya mendapatkan alokasi kecil.
Pengadaan satu unit truk sampah senilai Rp823,5 juta untuk Pemerintah Kota Lhokseumawe menjadi salah satu komponen terbesar dalam realisasi CSR PAG tahun 2025. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas penggunaan dana CSR, apakah benar-benar untuk pemberdayaan masyarakat atau lebih sebagai substitusi tanggung jawab pemerintah daerah.
Alokasi Dana CSR PAG 2025
- Program Energi Maju Budidaya Pertanian Ubi: Rp172,8 juta untuk 10 kelompok tani di sembilan desa.
- Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Pesisir: Rp37,5 juta untuk 50 peserta dari delapan desa pesisir.
- Pengadaan Truk Sampah: Rp823,5 juta untuk Pemerintah Kota Lhokseumawe.
- Bantuan Hewan Qurban: Rp266,3 juta untuk masyarakat di 13 desa lingkungan.
- Program Energi Bakti Charity: Rp390,5 juta untuk bantuan sosial, keagamaan, dan kepemudaan.
Pertanyaan tentang Dampak Nyata
Dana CSR sebesar Rp2,5 miliar diharapkan dapat memberikan dampak struktural bagi masyarakat Lhokseumawe, terutama dalam transformasi ekonomi pasca menurunnya aktivitas industri besar di kawasan Arun. Namun, sebagian besar program CSR lebih bersifat seremonial dan karitatif jangka pendek, seperti:
- Kegiatan Jalan Sehat Kemerdekaan: Rp107,9 juta.
- Santunan Anak Yatim: Rp175 juta.
- Bantuan Meugang: Rp68 juta.
Program-program ini memang dapat membangun kedekatan sosial dengan masyarakat, namun dampaknya cenderung sesaat dan tidak menyentuh akar persoalan ekonomi masyarakat sekitar kawasan industri.
Tantangan Sosial-Ekonomi Lhokseumawe
Lhokseumawe, yang dulunya dikenal sebagai kota industri gas, masih menghadapi persoalan pengangguran, keterbatasan peluang usaha, serta kebutuhan transformasi ekonomi masyarakat. Dana CSR seharusnya diarahkan pada program yang lebih strategis dan berkelanjutan, seperti:
- Penguatan UMKM lokal.
- Penciptaan lapangan kerja berbasis komunitas.
- Pengembangan industri turunan.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia masyarakat sekitar.
Tanpa arah yang jelas, dana Rp2,5 miliar yang digelontorkan sepanjang 2025 berisiko hanya menjadi daftar panjang kegiatan tanpa dampak struktural bagi masyarakat Lhokseumawe.
