News
Kekerasan Seksual di Aceh: Candaan Berbahaya yang Menjadi Budaya
5 jam yang lalu
Kekerasan seksual tidak selalu dimulai dari tindakan fisik, tetapi dari kata-kata yang dinormalisasi. Di Aceh, data menunjukkan 967 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2025. Normalisasi candaan vulgar dan objektifikasi perempuan menjadi fondasi budaya berbahaya yang dikenal sebagai rape culture.
Kasus terbaru yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi sorotan karena percakapan di grup WhatsApp yang mengarah pada pelecehan seksual. Hal ini mencerminkan masalah yang lebih dalam, yaitu normalisasi perilaku yang merendahkan perempuan.
Dampak Normalisasi Kekerasan Seksual
- Kehilangan Sensitivitas: Orang menjadi kebal terhadap kata-kata yang seharusnya dijaga.
- Budaya Permisif: Lingkungan yang membiarkan bahkan membenarkan perilaku tidak pantas.
- Eskalasi Kekerasan: Apa yang awalnya hanya berupa candaan bisa berkembang menjadi tindakan yang lebih nyata.
Langkah-Langkah untuk Mengubah Budaya
- Berhenti Memberi Validasi: Tidak semua hal harus ditertawakan. Ketika kita berhenti memberi validasi, meski hanya dengan diam tanpa tawa, kita sedang mengirim pesan bahwa itu tidak pantas.
- Tegur dengan Cerdas: Menegur tidak harus dengan marah. Justru pendekatan yang tenang sering lebih efektif.
- Bangun Standar Baru: Biasakan bahasa yang menghargai, batasi obrolan yang menjurus, dan ciptakan ruang aman, terutama bagi perempuan.
- Literasi: Pahami konsep rape culture, pahami dampaknya pada korban, dan sadari bahwa kata-kata bisa menjadi pintu awal kekerasan.
- Peran Institusi: Kasus seperti yang terjadi di lingkungan kampus tidak boleh selesai dengan permintaan maaf semata. Harus ada langkah nyata, seperti memberikan edukasi, kode etik yang tegas, mekanisme pelaporan yang aman, dan sanksi yang memberi efek jera.
Menghentikan rape culture bukan pekerjaan instan, tetapi ia juga bukan sesuatu yang mustahil. Ia dimulai dari hal kecil yang sering kita anggap tidak berarti. Dari satu komentar yang kita tahan, dari satu candaan yang kita tolak, dari satu keberanian untuk berkata, "Ini tidak benar." Karena pada akhirnya, kekerasan tidak hanya lahir dari niat jahat. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan. Dan perubahan, selalu dimulai dari mereka yang berani berhenti membiarkan.
