Timeline Aceh
modusaceh.co
modusaceh.co

Dari Lampoh Weng ke Kursi Gubernur: Kisah Ibrahim Hasan Membangun Aceh

20 Januari 2026 14:22

Ibrahim Hasan, lahir di Lampoh Weng, Pidie, pada 16 Maret 1935, menjadi Gubernur Aceh pertama yang bukan berasal dari unsur Angkatan ’45. Ia dilantik pada 27 Agustus 1986, di usia 51 tahun, setelah berkarier sebagai Deputi Pengadaan dan Penyaluran Bulog di Jakarta. Pelantikan ini menandai harapan besar masyarakat Aceh untuk pembaruan serius dan berkelanjutan.

Sebagai akademisi dan teknokrat, Ibrahim Hasan menyadari beratnya medan pengabdian di Aceh. Ia menggambarkan masyarakat Aceh seperti gunung es, di mana hanya 10 persen yang tampak, sementara sisanya tersembunyi dalam perasaan dan pikiran. Ia menekankan pentingnya pembangunan pendidikan dan pertanian untuk mengatasi keterbelakangan yang diakibatkan oleh konflik panjang.

Perjalanan Karier dan Pendidikan

  • Pendidikan Awal: Ibrahim Hasan tumbuh dalam keluarga sederhana di Lampoh Weng. Ayahnya hanya mengenyam pendidikan hingga kelas III SD, sementara ibunya buta huruf. Namun, dorongan kuat untuk belajar membuatnya menuntut ilmu setinggi-tingginya.
  • Kariar Akademik: Ia menjadi asisten Prof. Dr. M. Sadli di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1955–1960). Sepulangnya ke Aceh, ia ikut membangun Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan menjadi Rektor Unsyiah pada 1974.
  • Pengalaman Internasional: Ia meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Universitas Syracuse, New York, dan mengikuti program di International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina.

Kontribusi sebagai Gubernur Aceh

  • Pembangunan Pertanian: Presiden Soeharto memberikan arahan khusus mengenai pembangunan Aceh, terutama di sektor pertanian. Ibrahim Hasan fokus pada pengembangan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, nilam, pala, kopi, kemiri, kedelai, dan tambak udang.
  • Pembangunan Infrastruktur: Pemerintah pusat berjanji mendukung pembangunan bidang spiritual melalui bantuan rumah ibadah serta bantuan sosial bagi anak yatim dan terlantar. Pembangunan infrastruktur termasuk jembatan pengganti rakit penyeberangan di pantai barat Aceh.

Warisan dan Keteladanan

  • Pemimpin yang Mendengar Suara Rakyat: Ibrahim Hasan meninggalkan jejak sebagai akademisi, teknokrat, pemimpin daerah, dan negarawan. Ia menekankan pentingnya pemahaman, kesabaran, dan keberanian mendengar suara rakyat.
  • Keteladanan Pendidikan: Dalam mendidik anak-anaknya, ia menyuruh mereka memilih antara menjadi pemimpin kecil, pelayan besar, atau sekadar masuk kelompok heran-heran. Ini mencerminkan filosofi hidupnya yang sederhana namun mendalam.

Ibrahim Hasan wafat pada usia 71 tahun dan dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kisah hidupnya adalah inspirasi bagi masyarakat Aceh dan Indonesia, menunjukkan bahwa perubahan lahir dari pemahaman, kesabaran, dan keberanian mendengar suara rakyat.

Dari Lampoh Weng ke Kursi Gubernur: Kisah Ibrahim Hasan Membangun Aceh
0123456789