Mahasiswa Aceh yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Pembela Tanah Aceh (Gempata) melakukan aksi damai di depan kantor Gubernur Aceh. Mereka menuntut transparansi pengelolaan dana bencana, termasuk dana transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp1,6 triliun yang dikembalikan pemerintah pusat. Koordinator Lapangan Gempata, Syahputra Ariga, menyatakan bahwa masyarakat belum melihat hasil nyata dari penggunaan dana tersebut.
Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan bahwa dokumen perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sudah dapat diakses publik. Namun, terkait detail penggunaan dana TKD, BPBA belum dapat memberikan penjelasan dan akan menyampaikannya kepada pimpinan terlebih dahulu.
Tuntutan Mahasiswa
- Transparansi penggunaan dana BTT dan TKD: Mahasiswa mempertanyakan kejelasan realisasi penggunaan dana dan apakah sudah sesuai dengan tujuan awal.
- Pola pendistribusian bantuan: Mereka mendesak pemerintah untuk menjelaskan pola pendistribusian, siapa penerima, dan pelaksanaannya di lapangan.
- Daftar relawan dan logistik: Mahasiswa juga menuntut pemerintah untuk membuka nama-nama relawan yang direkrut dan detail belanja 650 ribu ton logistik.
- Tindak lanjut dugaan korupsi: Mereka meminta Polda Aceh untuk segera memproses dugaan korupsi dalam penanganan bencana hidrometeorologi 2025.
Respons Pemerintah
- Dokumen R3P terbuka: Pemerintah Aceh menyatakan bahwa dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana (R3P) sudah dapat diakses publik melalui portal pemerintah.
- Logistik tersisa: BPBA menyatakan bahwa masih ada sekitar 300 ton logistik di gudang dan telah dikirim ke Huntara sesuai permintaan daerah.
- Keterbatasan informasi: BPBA belum dapat menjelaskan detail penggunaan dana TKD dan akan menyampaikannya kepada pimpinan terlebih dahulu.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaWarga Sabang Hadapi TPA Lhok Batee Hampir Penuh, Sisa Kapasitas Satu Tahun
Persoalan sampah di Kota Sabang dinilai mulai memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Petani sawit Aceh Tamiang terkena harga TBS turun tajam hingga Rp2.120/kg
Dalam hitungan pekan, harga yang sebelumnya sempat menyentuh kisaran Rp3.300 per kilogram kini merosot tajam menjadi hanya Rp2.120 per
Petani Bireuen Tenang, Air Pump Dibangun untuk Sawah","PublicImpact":80,"Credibility":85,"Urgency":70,"Evidence":80,"LongTermValue":80,"Education":70,"FinalScore":79,"Summary":"Kementerian PertanianRI
Kementerian Pertanian (Kementan) RI membangun 82 unit sarana air pump di Kabupaten Bireuen untuk mendukung
Warga Aceh Besar Menanti Daging Kurban dari 170 Hewan","PublicImpact":85,"Credibility":80,"Urgency":60,"Evidence":90,"LongTermValue":60,"Education":60,"FinalScore":77,"Summary":"Madrasah di Aceh Besar
Madrasah di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar menyembelih sebanyak 170 hewan kurban pada


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.