Timeline Aceh

Siswa Banjir Pidie Jaya Belajar di Terpal, Mimpi Kuliah Tetap Bertahan

29 Januari 2026 13:40

Terpal biru membentang di halaman sekolah. Bukan untuk menutup barang, melainkan menjadi alas belajar. Di sanalah Sahira Nabila dan Nurrache Ainul Fatihah menjalani hari-hari sebagai pelajar kelas akhir SMA di tengah sekolah yang belum sepenuhnya pulih dari banjir Pidie Jaya.

“Dulu kami belajar dengan penuh keceriaan, segar, dan bersemangat. Sekarang kami belajar beralaskan terpal, tanpa papan tulis dan tanpa fasilitas yang layak,” ujar salah satu siswa, menggambarkan perubahan drastis suasana belajar sejak banjir melanda.

Mimpi Kuliah Tetap Bertahan

Sahira Nabila (17), siswi kelas XII SMAN Meurah Dua asal Meunasah Raya, duduk bersila sambil mencatat pelajaran. Ayahnya seorang petani, ibunya ibu rumah tangga. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Sahira menyimpan tekad besar melanjutkan kuliah di Universitas Syiah Kuala (USK), mengambil Informatika, dan suatu hari menjadi pengusaha sukses.

Namun realitas di sekolah jauh dari bayangannya tentang ruang belajar. “Kami sekolah sekarang cuma belajar di terpal, di halaman sekolah,” kata Sahira. Kalimat sederhana yang memotret kondisi pendidikan yang berjalan dalam keterbatasan, tanpa sarana dasar yang semestinya.

Kehilangan Perpustakaan

Tak jauh dari Sahira, Nurrache Ainul Fatihah (16), siswi asal Meunasah Bie, memikul kehilangan yang berbeda. Ia bercita-cita menjadi psikolog. Kecintaannya pada membaca membuat perpustakaan sekolah menjadi ruang favoritnya tempat ia menghabiskan waktu di antara rak buku.

Kini, ruang itu tak lagi bisa ia datangi.

“Perpustakaan yang saya suka membaca sekarang tinggal kenangan, tertimbun lumpur,” ucap Nurrache. Buku-buku yang selama ini menjadi jendela pengetahuan ikut terkubur bersama sisa banjir.

Keterbatasan Ekonomi dan Harapan Beasiswa

Bencana ini tidak hanya merusak bangunan fisik sekolah, tetapi juga menggerus kualitas dan kenyamanan belajar siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Ayah kedua siswi ini bekerja sebagai petani, sementara ibu mereka tidak memiliki penghasilan tetap. Dalam kondisi seperti ini, biaya pendidikan lanjutan menjadi kekhawatiran serius.

Menjelang kelulusan SMA, Sahira dan Nurrache berada di fase penentuan masa depan. Semangat belajar masih mereka jaga, tetapi kemampuan finansial keluarga semakin tertekan. Harapan keduanya kini tertuju pada dukungan beasiswa agar pendidikan tidak terhenti di bangku SMA.

Perjuangan Mempertahankan Masa Depan

Kisah Sahira dan Nurrache mencerminkan wajah pendidikan pascabencana yang kerap luput dari sorotan. Pemulihan sekolah sering dilihat dari berdirinya kembali bangunan, sementara proses belajar dan keberlanjutan pendidikan siswa berjalan tertatih di ruang-ruang darurat.

Meski belajar tanpa papan tulis, tanpa kelas yang layak, dan hanya beralaskan terpal, Sahira dan Nurrache tetap datang ke sekolah. Mereka bertahan bukan karena keadaan mendukung, tetapi karena mimpi yang terlalu penting untuk dilepaskan.

Di Pidie Jaya, banjir mungkin perlahan surut. Namun bagi sebagian pelajar, perjuangan mempertahankan masa depan justru sedang berada di puncaknya.

Siswa Banjir Pidie Jaya Belajar di Terpal, Mimpi Kuliah Tetap Bertahan
0123456789