News
Nek Syarifah di Aceh Utara Tetap Bertahan dengan Gerabah Tradisional Pasca Banjir
26 Januari 2026 12:00
Di halaman rumah sederhananya di Gampong Matang Panyang, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, Syarifah Yusuf atau Nek Syarifah duduk di kursi plastik sambil memandangi tumpukan tanah liat. Tangannya yang renta menyimpan jejak puluhan tahun kerja keras dalam kerajinan gerabah.
Sudah sejak tahun 80-an, Nek Syarifah menggantungkan hidup dari kerajinan gerabah. Dari tanah liat, ia membesarkan anak-anaknya dan menopang ekonomi keluarga. Kini, ia hidup seorang diri setelah suaminya meninggal dunia pada 1991. Tiga orang anaknya telah berkeluarga, hanya satu anak perempuan yang masih membantu usaha gerabahnya.
Dampak Banjir dan Harapan Baru
Aktivitas Nek Syarifah sempat terhenti hampir dua bulan akibat banjir besar yang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025. Air merendam rumahnya hingga hampir setengah dinding, menyisakan lumpur yang baru selesai dibersihkan beberapa waktu lalu.
- Pesanan baru: Nek Syarifah menerima pesanan 400 unit cobek kecil dari sebuah rumah makan, menjadi berkah pertama setelah lama tak berproduksi.
- Harga jual: Gerabah buatannya dijual mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 70 ribu per unit, tergantung ukuran.
- Produksi: Dalam sebulan, ia mampu memproduksi 200 hingga 300 gerabah, dengan pendapatan sekitar Rp 2 juta.
Proses Pembuatan Gerabah
Proses pembuatan gerabah dilakukan sepenuhnya secara manual. Tanah liat dicampur pasir, lalu dipijak hingga benar-benar "matang" agar tidak mudah pecah. Setelah dibentuk tanpa cetakan, gerabah dijemur hingga kering dan dibakar dalam bara api selama sekitar empat jam.
- Bahan baku: Nek Syarifah mengambil tanah liat dari sawah dan membeli pasir seharga Rp 300 ribu per dump truk, harga yang naik Rp 100 ribu sejak bencana.
- Kualitas: Ia meyakini masakan yang dimasak menggunakan kuali tanah memiliki cita rasa berbeda.
Harapan untuk Generasi Muda
Di usianya yang senja, Nek Syarifah menyimpan harapan besar. Ia ingin kerajinan gerabah tidak punah ditelan zaman dan generasi muda mau meneruskan warisan budaya tersebut.
- Harapan: "Kami berharap ke depan pemerintah bisa memberdayakan generasi muda supaya gerabah ini tidak hilang. Dan semoga pengrajin seperti kami tidak diabaikan," pungkasnya.
