GeRAK Aceh bersama Koalisi Orang Muda menggelar diskusi publik bertajuk “Pemenuhan Hak-Hak Korban Bencana Aceh” di Suatuhari Caffe, Banda Aceh, Minggu, 8 Maret 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia. Diskusi yang dimulai pukul 16.00 WIB hingga menjelang berbuka puasa itu diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil serta kalangan anak muda. Forum tersebut menyoroti lemahnya komitmen pemerintah dalam mitigasi bencana serta pemenuhan hak-hak korban, khususnya bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak.
Peserta diskusi menilai sejumlah bencana yang terjadi di Aceh tidak semata-mata disebabkan faktor alam, tetapi juga dipicu oleh kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kelestarian lingkungan. Alih fungsi hutan akibat pemberian izin pertambangan di sejumlah wilayah dataran tinggi dan pesisir disebut sebagai salah satu faktor yang memperparah risiko bencana.
Isu Utama
- Lemahnya komitmen pemerintah dalam mitigasi bencana dan pemenuhan hak korban.
- Kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan sebagai penyebab bencana.
- Alih fungsi hutan akibat izin pertambangan memperparah risiko bencana.
- Penegakan hukum dan koordinasi aparat dinilai lemah dalam menghentikan tambang ilegal.
Pendapat Peserta
Perwakilan Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA), Ramaddan Fitriani, mengatakan persoalan bencana di Aceh berkaitan erat dengan tata kelola sumber daya alam yang dinilai tidak transparan dan berpotensi koruptif. Aktivis kemanusiaan yang fokus pada isu gender, Dwy Alfina, menilai standar infrastruktur di kawasan terdampak bencana masih belum memperhatikan aspek keamanan bagi perempuan. Ia menambahkan, minimnya fasilitas sanitasi yang aman dan menjaga privasi dapat meningkatkan risiko kekerasan seksual di lokasi pengungsian.
Tanggapan Pemerintah
Perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Yudhi, menyampaikan bahwa pemerintah selama ini telah bekerja sesuai regulasi dalam proses penanggulangan bencana. Ia juga menyoroti bahwa penyaluran bantuan di tingkat pemerintah kabupaten/kota kerap jarang mendapat perhatian atau pengawasan publik, sehingga perlu adanya keterlibatan masyarakat dalam mengawal proses tersebut.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua Berita11 Titik Panas di Aceh, Waspada Karhutla di Tanah Aceh Jaya dan Utara
BMKG mendeteksi 11 titik panas (hotspot) di Aceh pada Senin (27/4/2026), tersebar di Aceh Jaya, Aceh Timur, dan Aceh Utara.
24 Anak Panti Asuhan Bumi Moro Latih First Aid di Banda Aceh
Sebanyak 24 anak di Panti Asuhan Bumi Moro, Banda Aceh, mengikuti pelatihan pertolongan pertama (first aid) yang digelar subunit Supportive...
Rencana Ferry Jakarta–Banda Aceh, Biaya Logistik Melorot di Aceh
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tengah membahas rencana pembukaan lintasan angkutan penyeberangan
Pulihkan Pertanian, Kementan Tanam Padi Gogo di Pulo Siron Bireuen
Upaya pemulihan diawali dengan perbaikan infrastruktur penahan sawah yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah.


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.