Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Guru Besar Aceh: Standar Naik, Kesejahteraan Tertinggal di Era Regulasi Baru

03 Februari 2026 08:42

Di bawah regulasi baru yang menuntut publikasi internasional bereputasi, jalan menuju Guru Besar (GB) makin terjal. Bukan lagi soal masa kerja atau senioritas, melainkan keberanian memasuki arena jurnal global—menghadapi rejection, revisi berlapis, dan pencarian sunyi “rumah parkir ilmiah”.

Sejak Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025 dan Kepmendiktisaintek Nomor 63/M/KEP/2025 berlaku akhir Desember 2025, arah karier akademik resmi berubah mulai 2026: menjadi guru besar berarti siap berdialog dengan dunia. Ironinya terasa pahit—standar ilmiah dinaikkan, kesejahteraan dosen tertinggal, sehingga publikasi tak lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan perjalanan panjang yang menguras energi intelektual dan mental.

Ketentuan Baru

  • Lektor Kepala wajib satu artikel Scopus Q3 (SJR ≥0,20 atau IF ≥0,05)
  • Guru besar dua artikel Scopus—satu Q2 (SJR ≥0,25) dan satu Q3 (SJR ≥0,20)—sebagai penulis pertama atau korespondensi
  • Tersedia jalur loncat jabatan

Perbandingan Gaji

  • Singapura: Rp75–250 juta per bulan
  • Brunei: Rp23–34 juta per bulan
  • Malaysia, Thailand, Vietnam: Rp10–22 juta per bulan
  • Filipina: Rp4,3–7,8 juta per bulan
  • Indonesia: Rp3,37–6,3 juta per bulan

Paradoks Indonesia

  • Regulasi menuntut publikasi global, tetapi kompensasi tetap domestik
  • Gaji pokok dosen—termasuk guru besar—rata-rata hanya Rp3,37–6,3 juta per bulan
  • Sistem remunerasi masih berbasis golongan dan masa kerja, tunjangan kinerja belum menutup kesenjangan

Transformasi Epistemik

  • Dosen Indonesia didorong keluar dari ruang domestik menuju panggung global
  • Publikasi internasional kini bukan lagi opsi tambahan, melainkan poros utama karier akademik

Strategi Publikasi

  • Berhentilah menulis seperti membuat laporan penelitian
  • Pilih jurnal lebih dulu sebelum menulis
  • Anggap rejection sebagai bagian dari kurikulum
  • Jangan mengejar kompleksitas, kejernihan jauh lebih dihargai
  • Naikkan level diskusi hasil penelitian

Di era regulasi baru ini, jalan menuju guru besar memang semakin terjal, tetapi juga semakin jujur. Publikasi kini menjadi bahasa universal akademisi, ukuran keberanian kita berdialog dengan dunia. Namun ironi tetap terasa: standar akademik terus dinaikkan, sementara kesejahteraan dosen tertinggal jauh di belakang.

Guru Besar Aceh: Standar Naik, Kesejahteraan Tertinggal di Era Regulasi Baru
0123456789