News
SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng Masih Terkubur Lumpur, Proses Belajar Terhambat
24 Januari 2026 13:36
Banjir bandang yang melanda Desa Lueng Daneun, Bireuen, meninggalkan dampak yang mendalam bagi SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng. Sekolah yang terletak di samping kantor camat ini masih dipenuhi endapan lumpur setinggi lebih dari satu meter, membuat proses belajar mengajar berjalan seadanya. Siswa dan guru terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang jauh dari ideal.
Meskipun upaya pembersihan telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk siswa, guru, relawan, dan unsur TNI, lumpur masih menyisakan genangan air dan merusak fasilitas sekolah. Dari sembilan ruang belajar, hanya beberapa yang bisa digunakan, dan siswa harus duduk di lantai karena seluruh peralatan rusak. Laboratorium yang sempat menjadi kebanggaan sekolah kini rusak total.
Dampak Banjir Bandang
- Ketinggian air mencapai lebih dari dua meter, merendam seluruh peralatan sekolah, termasuk televisi besar yang baru dibeli dua hari sebelum musibah.
- Dari sembilan ruang belajar, hanya beberapa yang sudah dibersihkan dan bisa digunakan.
- Laboratorium rusak total, menghambat kegiatan praktikum siswa.
- Jumlah murid mencapai 170 orang dan guru 60 orang, semua berusaha bertahan meskipun fasilitas hancur.
Upaya Pembersihan
- Alat berat dari Dinas Pendidikan Aceh telah dikirim untuk membantu pembersihan, namun belum seluruhnya lumpur dibersihkan.
- Siswa, guru, relawan, dan unsur TNI turut serta dalam upaya pembersihan.
- Ruang UKS, ruang guru, dan ruang kepala sekolah sebagian sudah dibersihkan, namun kondisi masih jauh dari ideal.
Harapan untuk Kembali Normal
SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng tidak hanya berjuang untuk kembali bersih, tetapi juga untuk mengembalikan semangat belajar ratusan siswa dan guru. Kondisi sekolah yang masih terkubur lumpur menjadi pengingat akan dampak banjir bandang yang menghancurkan. Upaya kolektif dari berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat pemulihan sekolah dan mengembalikan kegiatan belajar mengajar seperti sedia kala.
"Sekolah kami hingga saat ini belum bersih, entah kapan akan bersih," ujar Murniati, guru bahasa Inggris, mencerminkan rasa lelah sekaligus pasrah yang dirasakan oleh seluruh civitas akademika. Harapan untuk kembali normal masih jauh, namun semangat untuk terus berjuang tetap menyala.
