Timeline Aceh
ajnn.net
ajnn.net

Siswa Pidie Jaya Bertahan di Kelas Darurat Pasca Bencana, Ujian Akhir Menanti

4 jam yang lalu

DEBU masih menempel tebal di atas meja belajar. Setiap kali angin berembus, butiran halus dari lumpur yang mengering di luar kelas kembali beterbangan, memenuhi ruang darurat itu. Ini adalah hari pertama siswa SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, menempati Ruang Kelas Darurat (RKD) setelah bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 menghancurkan sekolah mereka.

Dina Febian, siswa kelas XII, adalah satu dari ratusan siswa yang terdampak. Banjir disertai lumpur setinggi hingga tiga meter menenggelamkan sekolahnya, menghilangkan ruang kelas, meja, kursi, hingga buku-buku pelajaran. Empat bulan berlalu, enam unit RKD akhirnya dibangun, namun kondisi di dalamnya jauh dari ideal. Panas menyengat dan dinding tipis yang tidak mampu meredam suara menjadi tantangan baru bagi siswa.

Kondisi Kelas Darurat

  • Panas menyengat: Bangunan tanpa loteng membuat suhu meningkat drastis, memaksa siswa berkeringat dan sulit berkonsentrasi.
  • Dinding tipis: Suara dari kelas sebelah mudah terdengar, mengganggu konsentrasi belajar.
  • Kehilangan bahan belajar: Buku catatan dan materi pelajaran hilang tertimbun lumpur, membuat siswa seperti harus memulai dari nol.
  • Jam pelajaran lebih singkat: Tak ada lagi tambahan pelajaran yang biasanya diberikan kepada siswa kelas akhir menjelang ujian.

Tantangan Ujian Akhir

Dina dan 91 siswa kelas XII lainnya akan mengikuti ujian akhir untuk 14 mata pelajaran. Ujian tetap akan berlangsung secara offline, dengan soal-soal disiapkan secara manual dan dibagikan dalam bentuk lembaran kertas. Laboratorium komputer yang biasanya digunakan untuk ujian berbasis digital ikut tertimbun lumpur, beserta seluruh isinya.

Dampak Ekonomi Keluarga

Bencana tidak hanya menghancurkan sekolah, tetapi juga sumber penghasilan keluarga. Ayah Dina, yang bekerja sebagai petani penggarap, kehilangan sumber penghasilan karena sawah yang digarap tertutup lumpur dan tidak lagi bisa ditanami. Ibunya, yang merupakan ibu rumah tangga, tidak memiliki pemasukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Data Sekolah Terdampak

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 13 Februari 2026 mencatat, sebanyak 3.073 sekolah di Provinsi Aceh terdampak bencana. Dari jumlah itu, 52 sekolah masih belajar di tenda atau kelas darurat, sementara 20 lainnya menumpang di sekolah lain. Pada jenjang SMA saja, terdapat 239 sekolah terdampak.

Semangat Bertahan

Di tengah keterbatasan, para siswa penyintas bencana bertahan. Dina, misalnya, tetap menyimpan mimpi besar untuk menjadi seorang guru. Keinginan itu menjadi sumber kekuatan yang mendorongnya bertahan di tengah keterbatasan. Para guru juga hadir dengan kesabaran, mengajar perlahan, memberi semangat, bahkan sesekali menyelipkan keceriaan agar siswa tak larut dalam trauma.

Bagi Dina dan teman-temannya, sekolah kini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang untuk bertemu teman dan sejenak melupakan kesedihan. Mereka terus berusaha mengingat pelajaran demi pelajaran, bukan hanya untuk lulus ujian, tetapi untuk menjaga harapan bahwa suatu hari, mereka mampu berdiri di depan kelas sebagai guru, mengajar generasi berikutnya.

Siswa Pidie Jaya Bertahan di Kelas Darurat Pasca Bencana, Ujian Akhir Menanti