News
Warga Aceh Tamiang Jual Emas untuk Pulihkan Rumah Pascabanjir
26 Januari 2026 18:38
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mengubah perilaku ekonomi warga. Di tengah lonjakan harga emas yang mencapai Rp 9 juta per mayam, aktivitas pasar justru didominasi oleh penjualan perhiasan oleh warga terdampak bencana.
Menurut Rizky Adrian, karyawan Toko Emas Anugerah di Kualasimpang, harga emas saat ini berada di level tertinggi sejak awal tahun. Meski harga naik, transaksi pembelian emas minim. Warga lebih banyak menjual perhiasan mereka untuk memenuhi kebutuhan mendesak seperti perbaikan rumah dan pembelian perlengkapan sehari-hari.
Dampak Banjir terhadap Ekonomi Warga
- Harga Emas Naik: Harga emas per mayam mencapai Rp 8,9 juta untuk emas kadar 97 persen dan Rp 1,8 juta per gram untuk emas 22 karat.
- Penjualan Emas Meningkat: Sejak banjir, warga lebih banyak menjual perhiasan daripada membeli.
- Kebutuhan Mendesak: Warga menjual emas untuk membeli kasur, perabot, dan kebutuhan sehari-hari setelah rumah mereka rusak.
- Harapan Pemulihan: Rizky berharap harga emas bisa stabil kembali agar aktivitas pasar pulih.
Kondisi ini mencerminkan dampak langsung bencana terhadap ekonomi masyarakat Aceh Tamiang. Warga terdampak banjir harus melepas aset berharga mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar, menunjukkan urgensi pemulihan pascabencana yang lebih cepat dan efektif.
Dampak Jangka Panjang
- Ekonomi Lokal: Penjualan emas yang tinggi dapat mengindikasikan tekanan ekonomi yang dialami warga.
- Pemulihan Pasar: Stabilitas harga emas diharapkan dapat membantu pemulihan aktivitas pasar dan ekonomi lokal.
- Dukungan Pemerintah: Diperlukan intervensi dari pemerintah untuk membantu warga terdampak banjir dalam memulihkan kehidupan mereka.
Dengan kondisi ini, warga Aceh Tamiang berharap agar situasi dapat segera pulih dan mereka dapat kembali menjalani kehidupan normal tanpa harus melepas aset berharga mereka.
Nilai Edukasi
- Manajemen Keuangan: Warga diajarkan untuk mempersiapkan dana darurat untuk menghadapi bencana.
- Resiliensi Ekonomi: Pentingnya memiliki aset yang dapat dikonversi menjadi uang tunai dalam situasi darurat.
- Dukungan Komunitas: Pentingnya dukungan dari komunitas dan pemerintah dalam situasi bencana.
