News
Kerusakan Pendidikan di Lhokseumawe Akibat Banjir Capai Rp 57,4 Miliar
21 Januari 2026 15:46
Banjir yang melanda Kota Lhokseumawe pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan signifikan pada sektor pendidikan. Berdasarkan hasil Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna), total kerusakan mencapai Rp 57,4 miliar, mencakup berbagai jenjang pendidikan dari PAUD hingga SMA.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, menjelaskan bahwa kerusakan bervariasi, mulai dari mobiler, laboratorium, meja, kursi, lemari, hingga tempat ibadah di pesantren. Data ini akan dikirim ke pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi untuk mendapatkan bantuan.
Dampak Banjir pada Pendidikan
- 45 unit PAUD atau TK mengalami kerusakan.
- 63 unit SD dan Madrasah Ibtidayah terdampak.
- 28 unit SMP dan MTs mengalami kerusakan.
- 21 unit SMA atau SMK terdampak.
- 77 unit pesantren atau dayah mengalami kerusakan.
- 4 unit perpustakaan terdampak.
Meskipun kerusakan cukup parah, para siswa tetap aktif bersekolah dengan menyesuaikan kondisi yang ada. Taruna menambahkan bahwa kebutuhan sekolah dan siswa disesuaikan dengan kondisi saat ini sambil menunggu bantuan dari pemerintah.
Langkah Selanjutnya
Pemerintah Kota Lhokseumawe berencana untuk mengirimkan data kerusakan ini ke pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan guna memperbaiki kerusakan dan memulihkan sektor pendidikan di Lhokseumawe.
Dengan kerusakan yang mencapai Rp 57,4 miliar, pemulihan sektor pendidikan di Lhokseumawe memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga pada proses belajar mengajar yang harus tetap berjalan meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.
Dampak Jangka Panjang
Kerusakan pada sektor pendidikan dapat berdampak jangka panjang pada kualitas pendidikan di Lhokseumawe. Oleh karena itu, pemulihan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan siswa tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
