News
Pembangunan Huntara di Aceh Tengah dan Bener Meriah Terancam Tidak Selesai Sebelum Ramadhan
01 Februari 2026 09:11
Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menilai, pembangunan hunian sementara (huntara) di Tanah Gayo, meliputi Aceh Tengah dan Bener Meriah, berjalan lambat. Hal ini menyebabkan para pengungsi korban bencana banjir dan longsor terancam menjalani Ramadhan di tenda.
Kepala Perwakilan YARA Bener Meriah, Muhammad Dahlan, menyebutkan bahwa progres pembangunan huntara di sejumlah lokasi masih jauh dari target. Di Kampung Wih Pesam, Bener Meriah, misalnya, realisasi pembangunan huntara baru mencapai 20 persen.
Progres Pembangunan Huntara
- Di Aceh Tengah, tercatat 5.306 jiwa masih mengungsi, dengan 781 kepala keluarga (KK) direncanakan menempati huntara di Kecamatan Ketol dan Linge.
- Di Bener Meriah, pemerintah menargetkan pembangunan 914 unit huntara untuk 3.116 jiwa.
- Proses pembangunan terkendala distribusi material akibat kerusakan jalan dan jembatan pascabencana.
- Keterlambatan pembangunan akan memaksa sebagian korban banjir menjalani Ramadhan di tenda pengungsian atau hunian tidak layak.
Tanggapan Pemerintah
- Bupati Bener Meriah, Tagore AB, membantah progres pembangunan huntara baru 20 persen. Menurutnya, pekerjaan huntara di beberapa wilayah sudah hampir selesai.
- Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Bener Meriah, Ilham Abdi, menyebut terputusnya akses jalan di Rusip, Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, membuat material bangunan huntara di kawasan itu sulit diangkut.
- Kepala Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Andalika, menyebut pembangunan huntara tidak lamban, melainkan terkendala lahan dan akses mobilisasi peralatan.
YARA terus mendorong Pemkab, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat segera mempercepat pemulihan pascabencana di Tanah Gayo, meliputi pembangunan huntara, perbaikan jalan dan jembatan, infrastruktur dasar serta fasilitas publik lainnya.
