News
Warga Aceh Harus Pulang ke Huntara Sebelum Ramadhan, 45 Ribu Unit Belum Siap
28 Januari 2026 08:17
Harian Serambi Indonesia edisi Selasa (27/1/2026) mengangkat isu tentang ketidakpastian dan ketimpangan penanganan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang dan longsor di Aceh menjadi liputan ekslusif. Isu ini diangap penting karena sekitar 22 hari lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan.
Di Aceh, Ramadhan selalu identik dengan pulang. Pulang ke rumah, ke dapur yang hangat, ke meja makan tempat sahur dan berbuka berlangsung sederhana tapi khusyuk. Namun bagi puluhan ribu korban banjir bandang dan longsor sejak akhir 2025, Ramadhan tahun ini justru datang di tengah tenda, trauma, dan ketidakpastian.
Harapan Sahur di Rumah
Di halaman meunasah, di tenda darurat, di gubuk seadanya di atas puing rumah sendiri, satu harapan terdengar berulang dan nyaris seragam: ingin sahur di rumah. Bukan rumah mewah, bukan rumah permanen, cukup hunian sementara yang layak (huntara) agar ibadah bisa dijalani tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun di malam hari.
“Kami sangat rindu Ramadhan dan Lebaran di rumah. Ingin sahur dan berbuka bersama keluarga, bukan di tenda,” kata warga korban banjir yang mengungsi sebagaimana diberitakan Serambi.
Skala Persoalan Huntara
Data menunjukkan skala persoalan ini bukan kecil. Lebih dari 90 ribu jiwa masih mengungsi di hampir seribu titik. Ratusan ribu rumah terdampak, puluhan ribu rusak berat dan hilang. Kebutuhan huntara diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu unit. Namun hingga pertengahan Januari, yang benar-benar berdiri dan bisa ditempati baru ratusan unit. Sisanya masih berupa rencana, janji, atau bangunan setengah jadi.
Proses Tersendat
Masalahnya bukan semata anggaran. Pemerintah pusat menyatakan siap. BUMN siap membangun. Logistik tersedia. Namun di banyak daerah, proses tersendat pada hal-hal yang seharusnya paling dasar, Mulai dari penetapan lokasi, pendataan penerima, dan surat keputusan kepala daerah. Di beberapa tempat, bahkan muncul penolakan pembangunan huntara. Akibatnya, warga yang sudah kehilangan rumah kembali harus kehilangan kepastian.
Ketimpangan Progres
Ketimpangan progres antarwilayah memperlihatkan satu hal, bahwa penanganan bencana masih sangat bergantung pada kecepatan dan keberanian keputusan di tingkat lokal. Ada daerah yang melaju, ada yang tertatih, ada pula yang nyaris diam. Sementara waktu tidak menunggu. Ramadhan datang tanpa kompromi.
Ramadhan di Tenda
Bagi para pengungsi, Ramadhan di tenda bukan sekadar soal kenyamanan. Ia menyentuh martabat. Anak-anak tidur dengan rasa takut, lansia berjalan jauh ke dapur dan kamar mandi, ibu-ibu memasak dengan fasilitas seadanya, dan trauma yang belum sembuh kembali diuji setiap malam. Ini bukan sekadar soal fisik bangunan, tetapi soal pemulihan kemanusiaan.
Kita ingin menegaskan satu hal sederhana, bahwa percepatan huntara adalah urusan darurat, bukan administratif biasa. Kepala daerah tidak bisa berlindung di balik alasan teknis yang berlarut-larut. Negara dalam semua levelnya ditagih hadir sebelum Ramadhan tiba, bukan sesudahnya.
Bila Ramadhan adalah bulan pulang, maka tugas pemerintah hari ini adalah memastikan sebanyak mungkin warganya bisa pulang, meski hanya ke hunian sementara. Agar sahur dan berbuka tak lagi dilakukan di bawah terpal. Agar doa-doa Ramadhan tidak terus dibacakan dengan rasa cemas. Agar pemulihan Aceh dimulai dari hal paling mendasar, memberi rakyatnya tempat bernaung yang layak, sekarang, bukan nanti!
