News
IDI Abdya Diminta Mediasi Konflik Dua Dokter RSUTP untuk Jaga Pelayanan Kesehatan
4 jam yang lalu
Konflik antara dua dokter di RSU Teungku Peukan (RSUTP), Kabupaten Aceh Barat Daya, mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Abdya untuk segera mengambil peran sebagai mediator. Desakan ini disampaikan oleh politisi Partai Gerindra dan Tenaga Ahli Bupati Abdya, Zulfan Awenk, yang menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara internal untuk menjaga marwah profesi dokter dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Konflik antara Kepala Bidang berinisial dr. D dan Kepala Seksi Pelayanan Medis, dr. A, berawal dari kesalahpahaman dalam pelaksanaan tugas struktural di rumah sakit. Meskipun tidak terkait dengan praktik medis atau pelanggaran etik profesi, ketegangan ini telah berujung pada laporan ke Polres Abdya setelah adanya dugaan kontak fisik dan tindakan tidak menyenangkan.
Upaya Mediasi dan Tantangan
-
IDI Abdya telah melakukan pendekatan persuasif kepada kedua belah pihak, termasuk meminta agar laporan yang telah masuk dapat ditarik kembali. Namun, hingga saat ini, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
-
Manajemen RSUTP bersama Pemerintah Kabupaten Abdya melalui Sekretaris Daerah juga telah melakukan mediasi, tetapi belum berhasil menyelesaikan konflik.
-
Zulfan Awenk menekankan bahwa penyelesaian konflik harus mengedepankan musyawarah dan semangat kekeluargaan, serta menghindari proses persidangan yang dapat memperpanjang persoalan.
Dampak terhadap Pelayanan Kesehatan
-
Kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan berpotensi terganggu jika konflik tidak segera diselesaikan.
-
Stabilitas pelayanan kesehatan di RSUTP perlu dijaga agar tidak mengganggu layanan kepada masyarakat.
-
Marwah profesi dokter menjadi perhatian utama, di mana IDI Abdya diharapkan dapat menjaga citra positif tenaga medis di mata publik.
IDI Abdya berharap kedua belah pihak dapat mengedepankan semangat kekeluargaan dan profesionalisme demi menjaga marwah profesi serta stabilitas pelayanan kesehatan di RSUTP.
