News
Banda Aceh Jadi Kota Parfum Kedua Dunia, Nilam Aceh Diharapkan Naik Nilai
3 hari yang lalu
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, mendeklarasikan Banda Aceh sebagai kota parfum kedua dunia setelah Grasse, Prancis. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nilam Aceh, yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah dengan harga fluktuatif.
Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyusun peta jalan hingga 2030 untuk mengembangkan ekosistem parfum berbasis nilam. Salah satu rencana konkret adalah revitalisasi pusat Industri Kecil Menengah (IKM) di Ulee Lheue dan penyediaan fasilitas laboratorium parfum untuk mendukung riset dan produksi.
Upaya Penguatan Ekosistem Parfum
- Kolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK): Melalui Atsiri Research Center (ARC), USK mendukung riset dan inovasi dalam pengembangan parfum berbasis nilam.
- Dukungan Internasional: International Labour Organization (ILO) dan World Craft Council turut terlibat dalam penguatan sektor atsiri di Aceh.
- Promosi Nasional: Pemerintah Kota Banda Aceh mengikuti Festival Parfum Indonesia di Bandung untuk memperkenalkan potensi wewangian khas Aceh.
- Pendidikan Parfum: Rencana pengiriman lima anak Aceh untuk menempuh pendidikan parfum di Prancis dengan dukungan pembiayaan pemerintah provinsi.
Dampak dan Harapan
Dengan luas wilayah sekitar 61 kilometer persegi, Banda Aceh diharapkan dapat mengandalkan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat. Illiza menegaskan, "Kita ingin membawa keharuman Aceh untuk Indonesia, bahkan dunia."
Nilam Aceh dikenal sebagai salah satu penghasil nilam berkualitas tinggi di dunia. Minyak nilam berfungsi sebagai fixative dalam industri parfum, yang membuat aroma lebih tahan lama dan stabil di kulit. Dengan pengembangan ekosistem parfum, diharapkan petani nilam dapat mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi dan stabil.
