News
Pengungsi Banjir Aceh Harap Sahur di Rumah, Tapi Huntara Belum Jadi
27 Januari 2026 08:39
Penanganan hunian sementara (huntara) pascabanjir di sejumlah kabupaten/kota di Aceh menunjukkan progres yang tidak merata, bahkan ada kepala daerah yang disebut-sebut menolak pembangunan Huntara. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian bagi ribuan korban bencana yang bersiap menjalani Ramadhan. Melalui liputan eksklusif ini, tim redaksi menelusuri langsung perkembangan di lapangan, kebijakan pemerintah, serta harapan para pengungsi di tengah keterbatasan waktu dan kompleksitas penanganan bencana.
Di halaman meunasah Gampong Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, tenda-tenda bantuan masih berdiri rapat. Di sanalah puluhan keluarga korban banjir bandang menjalani hari-hari mereka, menunggu hujan reda, menunggu kepastian, dan menunggu Ramadhan datang dengan satu harapan sederhana, bisa sahur dan berbuka di rumah sendiri.
Dampak Banjir
- 227 rumah rusak parah, 97 unit hancur total bersama lahannya.
- 650 rumah lainnya rusak sedang, total lebih dari 2.000 jiwa mengungsi.
- Trauma psikologis masih dialami oleh pengungsi, terutama anak-anak.
- Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.
Harapan Pengungsi
- Hunian sementara (huntara) menjadi harapan utama.
- Ramadhan di rumah adalah keinginan utama pengungsi.
- Kepastian hunian tetap (Huntap) masih menjadi pertanyaan besar.
- Dukungan psikologis diperlukan untuk mengatasi trauma.
Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan adalah bulan pulang. Pulang ke rumah, ke meja makan keluarga, ke rasa aman yang tak tergantikan. Namun sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah ini pada akhir November 2025, rumah-rumah itu tinggal kenangan.
Banjir mulai menggenangi permukiman warga Keude Bungkaih pada 26 November pagi. Air terus naik hingga malam hari, membawa lumpur, kayu, dan puing. Saat surut, ratusan rumah rusak, sebagian hilang bersama tanah tempatnya berdiri. Tokoh masyarakat setempat, Hasanuddin, mantan keuchik dua periode, menyebut dampak dari banjir tersebut sangat luas.
“Sebanyak 227 rumah rusak parah. Dari jumlah itu, 97 unit hancur total bersama lahannya. Lebih dari 650 rumah lainnya rusak sedang. Total lebih dari 2.000 jiwa mengungsi,” ujarnya.
Kini, meunasah desa menjadi posko induk pengungsian. Di halaman, tenda-tenda bantuan BNPB berdiri, dihuni anak-anak, lansia, dan keluarga yang kehilangan segalanya.
Dihantui Trauma
Hayatul Husna (26) masih mengingat jelas malam-malam pertama pascabencana. Ia mengungsi bersama keluarganya sejak hari pertama banjir. “Awalnya kami bertahan di meunasah dan balai dusun. Tenda darurat baru ada sekitar sebulan kemudian,” ucapnya.
Makan, tidur, dan beristirahat dilakukan di ruang yang sama, tanpa sekat. Trauma belum sepenuhnya pergi. “Sekarang air bersih dan sanitasi sudah ada. Tapi tidur tetap tidak nyaman,” ucap Husna.
Hal senada disampaikan Mursyidah Idris (45). Jadwal makan yang tidak menentu sempat menambah tekanan psikologis. “Kadang makan malam baru ada jam 10 malam. Kami masih trauma melihat rumah kami hancur,” imbuh Mursyidah.
Anak Tidur di Tenda
Di tempat lain, Salmawati (40) duduk di depan tendanya, memandangi anak-anaknya yang bermain di tanah becek. Rumahnya rusak parah dan tak lagi bisa ditempati. Sejak bencana, ia bersama suami dan tiga anaknya hidup di tenda darurat. “Kami hanya ingin anak-anak tidak terus tidur di tenda,” katanya lirih.
Baginya, Ramadhan di pengungsian adalah bayangan yang menakutkan. Bukan karena kurang makanan, tetapi karena tidak ada rasa aman. “Kalau hujan turun malam hari, anak-anak langsung takut,” ungkap Salma.
Para pengungsi mengaku rindu suasana Ramadhan yang dulu. Sahur bersama keluarga, memasak di dapur sendiri, berbuka di rumah, lalu tarawih di meunasah tanpa harus kembali ke tenda. “Kami sangat rindu Ramadhan dan Lebaran di rumah,” kata Hayatul dan Mursyidah hampir bersamaan. “Ingin sahur dan berbuka bersama keluarga, bukan di tenda,” tambah mereka berdua.
Tokoh masyarakat setempat menyebutkan, pembangunan hunian sementara (huntara) kini menjadi harapan utama. Dengan hunian yang lebih layak, para pengungsi setidaknya bisa menjalani Ramadhan dengan lebih tenang, sembari menunggu kepastian hunian tetap (Huntap).
