News
Investor India Kecewa, Latos Langsa Belum Selesai 14 Tahun Pasca BGS
05 Februari 2026 17:47
Pengelola pusat perbelanjaan Langsa Town Square (Latos), Sures Kumar, mengaku kecewa dengan iklim investasi di Aceh. Pengusaha asal India tersebut menyebut investasi ratusan miliar rupiah yang telah ia tanamkan di Kota Langsa sejak lebih dari 14 tahun lalu hingga kini belum mendapatkan kepastian dan solusi dari pemerintah daerah.
Sures menjelaskan, permasalahan bermula dari kerja sama Bangun Guna Serah (BGS) yang ditandatangani pada 2011 antara dirinya dengan Pemerintah Kota (Pemko) Langsa saat almarhum Zulkifli Zainon menjabat sebagai wali kota. Dalam perjanjian tersebut, Pemko Langsa bertindak sebagai pemilik lahan, sementara dirinya sebagai investor bertugas membangun dan mengelola gedung pasar modern tersebut.
Permasalahan Pembiayaan
Selain itu, kata Sures, Bank Daerah disebut-sebut akan dilibatkan sebagai bank pendamping guna memastikan pembiayaan pembangunan berjalan lancar dan proyek dapat diselesaikan tepat waktu.
“Dalam perjanjian disebutkan bahwa investor yang bekerja sama dengan pemerintah wajib mendapat dukungan dari bank daerah sebagai bank pendamping,” kata Sures kepada AJNN, Kamis, 5 Februari 2026.
Namun dalam praktiknya, ia mengaku tidak pernah mendapatkan dukungan pembiayaan dari bank daerah maupun lembaga perbankan lainnya. Kondisi tersebut membuat Sures merasa dirugikan karena harus menanggung seluruh beban pembangunan secara mandiri.
Akibat keterbatasan pembiayaan, Sures terpaksa menyelesaikan pembangunan lantai dasar terlebih dahulu untuk menampung 136 pemilik awal kios yang telah mendaftar dan memiliki hak atas gerai. Pembangunan tersebut, lanjutnya, dilakukan dengan menggunakan dana pribadi tanpa dukungan perbankan.
Pada 2015, Sures kembali meminta bantuan Pemko Langsa di bawah kepemimpinan Wali Kota Usman Abdullah atau Toke Seum. Pemerintah kota disebut sempat mencoba memediasi dengan pihak bank daerah, namun upaya tersebut kembali tidak membuahkan hasil.
“Tidak ada satu pun bank yang bersedia menjadi pendamping proyek ini,” kata dia.
Upaya mencari dukungan dari bank konvensional lain di Aceh juga tidak membuahkan hasil. Sures pun mengaku terus berjuang sendiri menyelesaikan pembangunan gedung yang sejatinya dirancang menjadi ikon ekonomi Kota Langsa.
Keamanan Investor
Menurutnya, pengalaman pahit tersebut menjadi gambaran buruk iklim investasi di Aceh. Ia menilai, kondisi tersebut membuat daerah ini sulit menarik minat investor, meskipun ada pihak yang berniat berkontribusi bagi pembangunan daerah.
“Pengalaman ini memperlihatkan bahwa berinvestasi di Aceh bukan perkara mudah. Investor bisa menghadapi kesulitan dan penderitaan seperti yang saya alami,” ujarnya.
Selain persoalan pembiayaan, Sures juga menyoroti minimnya jaminan keamanan bagi investor. Ia mengaku kerap menerima tekanan dan intimidasi dari berbagai pihak, termasuk oknum organisasi masyarakat yang datang meminta sejumlah uang.
“Beragam ancaman pernah saya terima. Pemerintah terkesan membiarkan investor menghadapi persoalan keamanan sendiri tanpa perlindungan yang memadai,” ungkapnya.
Ia menilai, jika Latos dapat diselesaikan secara optimal, gedung tersebut berpotensi menjadi pusat bisnis strategis yang mampu menciptakan ribuan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan asli daerah.
Sures berharap kepemimpinan Wali Kota Langsa yang baru, Jeffry Sentana, dapat memberikan solusi konkret terhadap persoalan Latos yang telah berlarut-larut selama bertahun-tahun.
“Saya berharap kepemimpinan baru dapat menjadi titik terang bagi masa depan Latos dan iklim investasi di Aceh, khususnya di wilayah pesisir timur,” pungkasnya.
