Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Ramadan Aceh: Toa vs Jam Beker, Syiar atau Gangguan? (Kasus Meulaboh & Banda Aceh)

5 hari yang lalu

Bulan Ramadan di Aceh selalu diwarnai dengan suara lantunan ayat suci dan teriakan sahur yang menggema dari masjid dan meunasah. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan keresahan yang tidak boleh diabaikan. Penggunaan pengeras suara (toa) yang berlebihan selama Ramadan telah memicu ketegangan sosial di beberapa wilayah Aceh.

Baru-baru ini, seorang pria di Meulaboh, Aceh Barat, merusak pengeras suara masjid karena frustrasi dengan suara tadarus yang mengganggu istirahatnya. Kasus serupa juga terjadi di Banda Aceh, di mana seorang kakek dipaksa mencabut gugatan hukumnya terhadap masjid yang bising. Kedua insiden ini menunjukkan bahwa "kebisingan syiar" dapat melukai rasa kemanusiaan, bahkan terhadap sesama Muslim.

Dampak Sosial dan Syariat Islam

  • Ketegangan Sosial: Penggunaan toa yang berlebihan telah menyebabkan ketegangan sosial di beberapa wilayah Aceh, seperti Meulaboh dan Banda Aceh.
  • Syariat Islam: Syariat Islam di Aceh menekankan ketenteraman masyarakat. Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, menegaskan bahwa syariat Islam di Aceh berlaku secara kafah, termasuk ketenteraman masyarakat.
  • Konsep Rahmatan lil 'Alamin: Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam) menuntut praktik ibadah yang tidak mengganggu orang lain, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Solusi dan Rekomendasi

  • Penggunaan Toa Secara Proporsional: Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mendorong penggunaan toa secara proporsional, hanya untuk hal-hal esensial seperti azan dengan volume yang wajar.
  • Jam Beker sebagai Alternatif: Menggunakan jam beker sebagai alternatif untuk bangun sahur dapat melatih tanggung jawab individu tanpa membebani orang lain.
  • Revolusi Santun: Sudah saatnya melakukan "revolusi santun" dalam beribadah, menggunakan toa secara proporsional dan jam beker untuk urusan pribadi.

Dengan cara ini, kita dapat merayakan Ramadan tidak hanya dengan banyaknya amalan, tetapi juga dengan tingginya akhlak. Kita menghidupkan malam dengan Al-Quran tanpa mematikan hak orang lain untuk tidur nyenyak.

Ramadan Aceh: Toa vs Jam Beker, Syiar atau Gangguan? (Kasus Meulaboh & Banda Aceh)
0123456789