News
Pendampingan Psikososial Anak Aceh Pasca Banjir: Kegiatan Terapi Seni dan Menulis
5 hari yang lalu
BANDA ACEH - Maria Ulfa, koordinator lapangan dan pembina Yayasan Bintang Kecil, mengatakan hingga tiga bulan setelah banjir besar di Aceh, banyak daerah yang belum pulih. Kondisi ini membuat para penyintas dipaksa beribadah Ramadan dalam keterbatasan.
Tidak hanya itu, kata Maria, hal ini juga memunculkan tantangan psikologis yang besar, termasuk bagi anak dan remaja. Merespon hal ini, beberapa komunitas dan organisasi dari berbagai daerah berkolaborasi melakukan pendampingan psikososial untuk anak dan remaja di tiga kabupaten, Aceh Tengah, Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Kegiatan Psikososial
Acara digelar sepanjang 5-8 Maret 2026, dengan kegiatan berbasis terapi seni dan kegiatan terapi menulis. Tak hanya itu, berbagai kegiatan positif dan menyenangkan juga dilakukan seperti kelas lingkungan mengajarkan tentang ecobrick dan ecoart, kelas literasi membaca nyaring, kelas bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dan lainnya.
Dampak dan Manfaat
Kegiatan psikososial ini dianggap sama pentingnya dengan bantuan logistik. Lewat kegiatan ini, penyintas dibantu memulihkan psikologis mereka lebih cepat dengan media bermain yang menyenangkan.
- Aceh Tamiang: 121 orang mendapatkan manfaat, termasuk 109 anak dan remaja, 1 anak berkebutuhan khusus, dan 11 dewasa.
- Aceh Timur: 88 orang mendapatkan dampak, termasuk 84 anak dan remaja, 2 anak berkebutuhan khusus, dan 4 dewasa.
- Aceh Tengah: 62 orang mendapatkan manfaat, termasuk 58 anak dan 4 dewasa.
Kolaborasi dan Dukungan
Inisiasi oleh Yayasan Bintang Kecil di Banda Aceh, kolaborasi ini melibatkan TBM Lhee Club di Pidie, Komunitas Hebat di Medan dan Komunitas Perkasa Alam, Nibras House Banda Aceh, Alfatih Swim, Hananan Art, Dapue Nowni di Banda Aceh. Tak hanya itu, berbagai komunitas di Jakarta juga mendukung penuh kegiatan ini, yaitu Institut Sains dan Teknologi Nasional, Peri Bumi, GPPT, Buku Berkaki dan Universitas Al Azhar Indonesia.
Tema dan Pesan
Kami mengusung tema ‘Bergerak di Lingkar Kendali’ untuk mengingatkan bahwa meskipun bencana ini tidak dapat dihindari, tapi kita bisa melakukan apa yang kita mampu untuk memperbaikinya, kata Maria.
