News
Kasus Campak di Aceh Menurun, Tapi KLB Masih Terjadi di Beberapa Daerah
12 jam yang lalu
Dinas Kesehatan Aceh mencatat tren kasus campak mengalami penurunan sepanjang 2026, setelah sempat melonjak tinggi pada awal 2025. Meski demikian, Kejadian Luar Biasa (KLB) masih terjadi di sejumlah kabupaten/kota akibat rendahnya cakupan imunisasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, Iman Murahman, mengatakan lonjakan kasus campak terjadi pada awal 2025, dengan puncak pada Januari dan Februari. Pada Januari 2025 tercatat 755 kasus suspek dengan 241 kasus terkonfirmasi, disusul Februari sebanyak 702 suspek dan 226 konfirmasi. Setelah itu, tren mulai menurun hingga akhir tahun.
Penurunan Kasus pada 2026
Memasuki 2026, penurunan kasus terlihat cukup signifikan. Dalam periode Januari hingga Maret 2026, tercatat 724 kasus suspek dengan 124 kasus terkonfirmasi. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai sekitar 1.400 lebih suspek. Namun demikian, KLB masih terjadi di beberapa daerah sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.
Daerah dengan Kasus Tinggi
Secara kumulatif, sepanjang 2025 tercatat 5.204 kasus suspek campak dengan 1.241 kasus terkonfirmasi serta enam kasus rubela. Sementara pada 2026 hingga Maret, terdapat 724 suspek, 124 konfirmasi campak, dan satu kasus rubela. Daerah dengan kasus tinggi pada 2025 antara lain Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh. Bahkan, Kabupaten Pidie mencatat KLB terbanyak hingga tujuh kali dalam setahun.
Rendahnya Cakupan Imunisasi
Tingginya kasus campak di Aceh sangat berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi. Sebanyak 93,5 persen kasus konfirmasi terjadi pada anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi campak. Kelompok usia yang paling terdampak adalah anak usia 1–4 tahun dan 5–9 tahun, yang seharusnya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Faktor Penyebab
Iman menjelaskan, rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keraguan masyarakat terhadap vaksin hingga kurangnya dukungan keluarga. Masih ada kekhawatiran terkait keamanan vaksin, isu KIPI, serta informasi negatif yang beredar. Selain itu, keputusan dalam keluarga juga sangat menentukan apakah anak diimunisasi atau tidak.
Target Nasional
Cakupan imunisasi campak di Aceh masih jauh dari target nasional. Pada 2025, cakupan imunisasi MR dosis pertama baru mencapai 39,9 persen dan dosis kedua 23 persen. Padahal target nasional 85 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 88 persen pada 2027. Sementara pada 2026 ini, cakupan masih sangat rendah, yakni MR1 baru 7,1 persen dan MR2 sekitar 5,7 persen.
