Timeline Aceh

Kesepakatan Dagang RI-AS Ancam Industri Aceh, Petani dan UMKM Khawatir

4 jam yang lalu

Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dinilai lebih menguntungkan pihak AS, dengan potensi dampak negatif terhadap industri domestik, termasuk petani dan UMKM di Aceh. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti struktur tarif yang asimetris, di mana Indonesia menghapus tarif sekitar 99 persen untuk produk asal AS, sementara banyak produk ekspor Indonesia masih dikenakan tarif hingga 19 persen saat masuk ke pasar AS.

Kondisi ini berpotensi menekan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama di tengah ongkos produksi domestik yang relatif tinggi dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia. INDEF mencatat sejumlah sektor berisiko terdampak, termasuk industri tekstil, alas kaki, dan produk turunan sawit.

Dampak terhadap Industri dan Petani Aceh

  • Asimetri Tarif: Indonesia menghapus tarif sekitar 99 persen untuk produk asal AS, sementara produk ekspor Indonesia masih dikenakan tarif hingga 19 persen di pasar AS.
  • Risiko terhadap Industri: Sektor tekstil, alas kaki, dan produk turunan sawit berisiko terdampak jika tarif tetap diberlakukan atau kesepakatan tidak berjalan sesuai harapan.
  • Pelonggaran Impor Pangan: Kebijakan pelonggaran impor pangan dari AS berpotensi menekan petani dan peternak lokal di Aceh, serta bertolak belakang dengan agenda swasembada dan ketahanan pangan nasional.
  • Dampak Jangka Panjang: INDEF memperkirakan risiko jangka panjang terhadap ruang kebijakan industri dan perlindungan sektor domestik.

Rekomendasi INDEF

INDEF mendorong pemerintah meninjau ulang sejumlah poin dalam kesepakatan tersebut, termasuk opsi negosiasi ulang atau penyesuaian sebelum proses ratifikasi dilakukan. Lembaga ini juga menekankan peran DPR dalam menolak ratifikasi regulasi yang tidak menguntungkan Indonesia.

Kesepakatan Dagang RI-AS Ancam Industri Aceh, Petani dan UMKM Khawatir