News
Aksara Jawi: Identitas Budaya Aceh yang Berlangsung Selama Abad
10 Februari 2026 08:02
Aksara Jawi bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi identitas budaya Aceh yang terus hidup. Sejak abad ke-16, aksara ini menjadi medium penyebaran Islam dan kearifan lokal, serta simbol ketahanan budaya Aceh.
Aksara Jawi telah berkembang sejak sekitar tahun 1300 M di Kepulauan Melayu dan dipergunakan secara resmi di berbagai kesultanan, termasuk Aceh. Ciri khasnya adalah huruf-huruf yang diambil dari bahasa Arab dan Farsi-Hindi.
Identitas Budaya Aceh
- Penggunaan luas: Aksara Jawi digunakan dalam surat-menyurat kesultanan, titah perintah, karya sastra, dan perdagangan.
- Manuskrip tertua: Naskah kitab “’Aqaid al-Nasafi” tahun 1590 M menjadi manuskrip Melayu tertua.
- Pujangga legendaris: Raja Ali Haji dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menggunakan aksara Jawi dalam karya-karya mereka.
- Akulturasi: Aksara Jawi merepresentasikan akulturasi antara tradisi Islam dan kebudayaan lokal Aceh.
Aksara Jawi di Aceh tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Aceh yang terus hidup dan bermakna.
