News
Pendidikan Aceh Gagal Bentuk Manusia Penjaga Lingkungan dan Empati
6 hari yang lalu
Setiap kali bencana datang ke Aceh, seperti banjir, longsor, atau abrasi pantai, masyarakat kembali larut dalam duka dan solidaritas. Rumah dibangun ulang, jalan diperbaiki, sekolah didirikan kembali. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan: apakah pendidikan yang diselenggarakan selama ini telah cukup membentuk manusia yang bertanggung jawab menjaga bumi dan sesamanya?
Ironisnya, banyak kerusakan lingkungan yang terjadi justru dilakukan oleh manusia terdidik. Mereka yang bersekolah, berijazah, bahkan memahami ajaran agama. Pendidikan tampak berhasil mencerdaskan akal, tetapi belum sepenuhnya menumbuhkan amanah sebagai manusia yang Allah tempatkan di bumi sebagai khalifah.
Gejala Kegagalan Pendidikan
- Kerusakan lingkungan: Hutan ditebang tanpa kendali, sungai tercemar, ruang hidup menyempit, dan daya dukung alam terus melemah. Semua ini dilakukan oleh manusia yang pernah duduk di bangku sekolah dan memahami nilai-nilai moral.
- Menipisnya empati: Kekerasan verbal dan fisik, ujaran kebencian, serta sikap saling menyalahkan semakin mudah ditemukan. Banyak orang fasih berbicara tentang nilai dan kebenaran, tetapi gagap ketika harus mempraktikkannya.
- Pemaknaan keberhasilan: Kesuksesan lebih sering diukur dari jabatan, gelar, dan materi. Pendidikan bergerak maju secara individual, namun tertinggal secara kolektif.
Pendidikan Keagamaan dan Tanggung Jawab Sosial
Pendidikan keagamaan pun tidak sepenuhnya luput dari kegelisahan ini. Ritual dijalankan, simbol dijaga, dan identitas ditegaskan. Namun, pesan-pesan tentang menjaga bumi, merawat kehidupan, dan membela yang lemah belum sepenuhnya menjelma menjadi sikap hidup. Agama kerap berhenti pada pengetahuan dan simbol, belum sepenuhnya turun menjadi laku.
Pelurusan Arah Pendidikan
Pendidikan di Aceh perlu dikoreksi arahnya, bukan ditambah beban formalitasnya. Titik kritis pendidikan bukan terletak pada kurangnya kurikulum, fasilitas, atau regulasi. Justru pendidikan semakin lengkap secara perangkat, tetapi perlahan kehilangan orientasi makna.
- Indikator keberhasilan: Nilai, kelulusan, dan peringkat menjadi tujuan utama. Padahal indikator-indikator ini tidak cukup untuk menilai apakah pendidikan benar-benar melahirkan manusia yang jujur, peduli, dan bertanggung jawab.
- Peran guru: Guru dan pendidik berada di posisi yang tidak mudah. Mereka dibebani target administratif dan standar formal yang ketat, sementara ruang untuk menjadi teladan moral dan pendamping karakter justru menyempit.
Mengembalikan Amanah Pendidikan
Pendidikan di Aceh seharusnya melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi sadar akan amanahnya sebagai penjaga kehidupan. Bukan manusia yang piawai mengeksploitasi, tetapi yang berani merawat. Ajakan ini bukan untuk menyalahkan siapapun, melainkan untuk mengingatkan kita semua. Orang tua, guru, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat. Bahwa pendidikan adalah ikhtiar jangka panjang. Jika amanah dijaga, generasi akan kuat. Dan ketika generasi kuat secara moral, masa depan masyarakat Aceh akan lebih selamat dalam menjalani kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
