News
Harapan Baru untuk 80 KK Korban Banjir di Bireuen: Huntap Mulai Dibangun
20 Februari 2026 15:27
Banjir bandang yang melanda Desa Alue Kuta dan Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka, Bireuen, beberapa waktu lalu meninggalkan luka mendalam bagi warga. Sebanyak 68 rumah hilang tersapu arus, 110 rusak parah, dan puluhan lainnya mengalami kerusakan sedang hingga ringan. Akibatnya, 356 jiwa dari 80 kepala keluarga (KK) masih bertahan di hunian sementara, sebagian di Kompleks Dayah Istiqamah dan sebagian lagi menumpang di rumah kerabat.
Namun, di tengah kesedihan itu, harapan baru mulai tumbuh. Pada Kamis (19/2/2026), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen bersama Laznas Daarut Tauhid (DT) Peduli dan masyarakat setempat menandatangani komitmen bersama pembangunan hunian tetap (Huntap). Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan wujud nyata semangat gotong royong.
Pembangunan Huntap
- 45 unit rumah tipe 36 akan dibangun, lengkap dengan instalasi listrik, kamar mandi, dan sanitasi layak.
- Pembangunan dilakukan bertahap: 25 unit di tahap pertama dan 20 unit pada tahap kedua.
- Pemkab Bireuen bertanggung jawab atas infrastruktur pendukung seperti pematangan lahan, jalan lingkungan, drainase, jaringan listrik, penerangan jalan umum, hingga pengurusan sertifikat hak milik (SHM).
- Masyarakat penerima manfaat menyediakan lahan seluas 6.567 m² dan ikut terlibat langsung dalam proses pembangunan melalui sistem swadaya.
Dampak dan Harapan
- 35 KK tinggal di hunian bantuan di Kompleks Dayah Istiqamah, sementara 10 KK lainnya menumpang di rumah keluarga atau tetangga.
- Bupati Mukhlis menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan infrastruktur pendukung siap tepat waktu.
- Huntap diharapkan menjadi simbol kepastian hidup bagi warga penyintas banjir, dengan rumah layak dan sertifikat kepemilikan.
- Konsep gotong royong diyakini akan memperkuat solidaritas sosial, di mana warga tidak hanya menerima rumah, tetapi juga ikut membangun, sehingga tumbuh rasa memiliki terhadap hunian baru.
Pembangunan Huntap di Alue Kuta dan Kuala Ceurape menjadi bukti bahwa pemulihan pasca bencana membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat. Dari reruntuhan rumah yang hilang, kini lahir harapan baru: hunian yang lebih layak, aman, dan tangguh menghadapi bencana di masa depan.
