News
16 Desa di Aceh Masih Tanpa Listrik Dua Bulan Pasca Banjir, Warga Harap Percepatan
08 Februari 2026 09:16
Listrik 16 desa di Aceh belum pulih sampai dengan Sabtu, (7/2/2026). Kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua bulan sejak daerah tersebut dilanda bencana banjir. Kendala perbaikan suplai listrik dikarenakan akses jalan yang masih sulit. Sementara ini warga di lokasi terdampak mengandalkan generator dan lampu tenaga surya.
Berdasarkan data dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Provinsi Aceh, 16 desa itu tersebar di enam kabupaten. Di Kabupaten Aceh Tengah, desa-desa yang masih belum teraliri listrik meliputi Desa Atu Payung, Bintang Pepara, Delung Sekinel, Jamat, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Reje, Umang, dan Reje Payung.
Desa Terpencil Masih Tanpa Listrik
- Kabupaten Aceh Tengah: Desa Atu Payung, Bintang Pepara, Delung Sekinel, Jamat, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Reje, Umang, dan Reje Payung.
- Kabupaten Aceh Utara: Gampong Lesten.
- Kabupaten Gayo Lues: Desa Lubok Pusaka.
- Kabupaten Aceh Timur: Desa Sah Raja.
- Kabupaten Bireuen: Desa Salah Sirong Jaya.
- Kabupaten Aceh Tamiang: Desa Sekumur.
- Kabupaten Aceh Barat: Desa Sikundo.
Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Lukman Hakim menyebutkan, kendala utama perbaikan suplai listrik karena jalan ambles dan jembatan terputus di wilayah terdampak bencana. Sehingga tim teknis PLN sulit mengangkut tiang, kabel dan material lainnya.
Harapan Warga
Keuchik Leubok Pusaka, Janni berharap pemulihan listrik bisa segera dilakukan. Pasalnya, selama dua bulan terakhir, pengungsi korban banjir menggunakan mesin generator listrik dan lampu tenaga surya. “Masalah kami cuman listrik saja yang belum menyala. Kami harap bisa dipercepat,” terangnya.
Korban banjir, kata dia, terpaksa membeli bahan bakar untuk menyalakan mesin generator listrik pada malam hari. Hal itu sangat memberatkan warga. Sebab, pendapatan keuangan keluarga saat ini hanya bergantung menjadi buruh pada proyek pembangunan pascabencana di desa itu.
“Untuk ke kebun kan belum bisa, hancur dan penuh lumpur semuanya. Beli bahan bakar untuk menyalakan mesin generator malam hari itu berat juga bagi warga,” pungkasnya.
