Timeline Aceh
ajnn.net
ajnn.net

Siswa SMA 2 Meureudu Belajar di Tengah Lumpur Pasca Banjir Bandang

2 jam yang lalu

Banjir bandang dan longsor yang melanda Pidie Jaya pada November 2025 masih meninggalkan dampak yang mendalam bagi pendidikan di daerah tersebut. SMA 2 Meureudu di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, menjadi salah satu sekolah yang terdampak parah. Hingga April 2026, siswa masih belajar di tengah kondisi sekolah yang dipenuhi lumpur dan keterbatasan fasilitas.

Kepala SMA 2 Meureudu, M Diah, menyatakan bahwa kehadiran siswa masih sekitar 50% dari total 271 siswa. Banyak siswa yang belum bisa hadir karena kondisi rumah mereka yang juga terdampak banjir. Proses belajar mengajar dilakukan di tenda dan ruangan sementara yang sempit dan panas, dengan jam belajar yang dipangkas menjadi 35 menit per sesi.

Kondisi Sekolah Pasca Banjir

  • Lumpur menenggelamkan seluruh bangunan sekolah, termasuk halaman, lapangan basket, dan pepohonan.
  • Kehadiran siswa hanya 50%, dengan banyak siswa yang kehilangan rumah dan tinggal di hunian sementara.
  • Proses belajar mengajar dilakukan di tenda dan ruangan sementara yang sempit dan panas.
  • Jam belajar dipangkas menjadi 35 menit per sesi untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Upaya Pemulihan

  • Pemerintah mengalokasikan dana Rp86,7 miliar untuk revitalisasi 72 sekolah terdampak di Pidie Jaya.
  • Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menargetkan fasilitas baru dapat digunakan pada tahun ajaran baru.
  • Pemerintah juga mengkaji opsi relokasi bagi sekolah-sekolah yang berada di zona rawan bencana.

Tantangan dan Harapan

  • Keterbatasan fasilitas dan kondisi psikologis siswa menjadi tantangan utama dalam pemulihan pendidikan.
  • Semangat belajar siswa tetap dijaga meski kondisi belum ideal.
  • Harapan untuk kembali belajar di lingkungan yang layak menjadi motivasi bagi siswa dan guru.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Profesor Safrul Muluk, menilai bahwa percepatan pemulihan infrastruktur dan penanganan aspek psikologis siswa sangat penting untuk mencegah risiko putus sekolah. Dia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membersihkan area sekolah dan menyediakan fasilitas sementara yang layak.

Dalam kondisi terbatas, model pembelajaran juga perlu disesuaikan. Profesor Safrul mendorong penerapan pembelajaran sirkuler berbasis aktivitas ringan dengan durasi lebih singkat, sekitar tiga hingga empat jam per hari. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kondisi psikologis siswa yang masih rentan pascabencana.

Selain itu, penyesuaian kurikulum juga menjadi hal krusial. Fokus pembelajaran sebaiknya diarahkan pada penguatan kompetensi dasar seperti literasi, numerasi, serta keterampilan hidup, termasuk kebersihan, pertolongan pertama, dan gotong royong.

Dalam situasi darurat, kehadiran siswa dinilai lebih penting dibandingkan beban tugas dan ujian. Profesor Safrul juga mengingatkan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga harus mencakup aspek psikologis siswa dan guru. Tanpa penanganan yang memadai, risiko stres dan depresi dapat meningkat, yang berpotensi menurunkan kehadiran siswa hingga memicu putus sekolah.

Pendekatan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Kegiatan sederhana seperti berbagi pengalaman, menulis, atau diskusi kelompok dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan dan membangun kembali rasa aman bagi siswa.

Dia menilai, keberhasilan pemulihan pendidikan tidak hanya diukur dari berdirinya kembali bangunan sekolah, tetapi juga dari pulihnya semangat belajar dan kondisi psikologis warga sekolah. Dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan, indikator keberhasilan dapat dilihat dari meningkatnya kehadiran siswa, menurunnya tingkat kecemasan, serta tidak adanya lonjakan angka putus sekolah.

Selain itu, indikator penting lainnya adalah tidak adanya siswa yang putus sekolah pascabencana. Profesor Safrul menilai, capaian angka putus sekolah nol persen merupakan ukuran keberhasilan yang signifikan, terutama di tengah kondisi ekonomi orang tua siswa yang turut terdampak bencana.

Siswa SMA 2 Meureudu Belajar di Tengah Lumpur Pasca Banjir Bandang