Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Universitas Jabal Ghafur di Pidie: Konflik Internal Menghambat Pembangunan

03 Februari 2026 08:09

Universitas Jabal Ghafur (Unigha) di Gle Gapui, Kabupaten Pidie, lahir dari semangat gotong royong masyarakat. Kampus ini bukan dibangun dari modal besar atau investor kuat, melainkan dari botol limun, botol sirop, sumbangan seadanya, dan keikhlasan rakyat Pidie sejak awal 1980-an.

Saat itu, Unigha bukan hanya tempat kuliah. Ia adalah simbol kebanggaan dan harapan. Masyarakat merasa memiliki. Ada rasa ikut membangun dan menjaga.

Konflik Internal Menghambat Pembangunan

Wafatnya Nurdin AR, pendiri Unigha, menjadi titik balik penting dalam perjalanan kampus ini. Sosok pemersatu itu tak tergantikan. Sejak saat itu, konflik internal perlahan muncul dan tak kunjung selesai.

Yayasan Pembangunan Kampus Jabal Ghafur (YPKJG) yang menaungi Unigha kerap dilanda persoalan. Pergantian kepengurusan, tarik-menarik kepentingan, hingga konflik terbuka menjadi cerita yang berulang. Di tingkat universitas, persoalan pergantian rektor juga tak pernah benar-benar tenang.

Demonstrasi Mahasiswa Berulang

Demonstrasi mahasiswa di Unigha nyaris menjadi agenda rutin. Lebih ironis lagi, aksi-aksi ini sering terjadi menjelang penerimaan mahasiswa baru. Perlu ditegaskan, demo mahasiswa bukanlah akar masalah. Ia hanyalah gejala. Tanda bahwa ada yang tidak beres dalam manajemen, komunikasi yang tersumbat, dan transparansi yang lemah.

Hubungan Yayasan dan Rektorat Tak Harmonis

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah hubungan yayasan dan rektorat yang kerap tidak harmonis. Dalam tata kelola perguruan tinggi yang sehat, yayasan seharusnya berperan menjaga arah besar dan keberlanjutan kampus, bukan ikut mengatur urusan teknis sehari-hari.

Ketika yayasan terlalu jauh masuk ke wilayah operasional, sementara rektorat kehilangan ruang gerak, kampus berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Dampaknya terasa nyata. Pengembangan dosen terhambat, fasilitas kurang terawat, inovasi minim, dan daya saing kampus terus menurun.

Kepercayaan Publik Tergerus

Perguruan tinggi swasta sangat bergantung pada kepercayaan (trust) masyarakat. Ketika kepercayaan itu hilang, jumlah mahasiswa turun, pemasukan berkurang, dan masalah makin kompleks.

Unigha hari ini berada di titik nadir menuju kehancuran bila tidak diperbaiki. Masyarakat Pidie yang dulu menjadi penopang utama kini justru menyaksikan konflik demi konflik secara terbuka. Jika benar ada kepentingan pribadi dan keserakahan elit di balik semua ini, maka luka yang ditinggalkan terasa sangat dalam.

Harapan untuk Bangkit

Meski begitu, Unigha belum sepenuhnya kehilangan harapan. Sejarah panjang, lokasi strategis, jaringan alumni yang luas, serta ikatan emosional dengan masyarakat Pidie adalah modal besar.

Namun, modal itu tidak akan berarti apa-apa tanpa tata kelola yang baik dan kepemimpinan yang bersih. Untuk menyelematkan kondisi Unigha yang kini menjelang berada di titik nadir, maka para pihak harus duduk bersama, buang ego pribadi dan ego sektoral, lalu fokus untuk menyelamatkan Unigha dan memajukannya seperti PTS-PTs terkemuka lainnya di Aceh. Bersama, insyaallah kita bisa. Unigha yang pernah jaya, harus tetap jaya.

Universitas Jabal Ghafur di Pidie: Konflik Internal Menghambat Pembangunan
0123456789