News
7 Relawan Pidie Berjuang di Gayo Lues, 161 Pasien Ditangani dalam 10 Hari
11 Februari 2026 12:35
Semangat pengabdian tanpa batas ditunjukkan oleh sejumlah putra-putri terbaik asal Kabupaten Pidie. Tergabung dalam Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan RI Batch 4, mereka mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat terdampak bencana di pedalaman Kabupaten Gayo Lues.
Pada Selasa (10/2/2026), memasuki hari ke-10 dari total 14 hari masa penugasan, tim yang bermarkas di Puskesmas Gumpang, Kecamatan Putri Betung, ini bergerak menyisir Desa Marpunge dan Pintu Gayo. Dua desa terluar ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Tenggara dan memiliki tantangan geografis yang cukup ekstrem.
Pelayanan Kesehatan di Pedalaman
Meski datang dari latar belakang profesi dan institusi yang berbeda, ketujuh relawan asal Pidie ini secara tak terduga dipersatukan oleh Pusat Krisis Kemenkes dalam satu misi yang solid. Tim ini dipimpin oleh dr Muhammad Sidiq, SpU, seorang dokter spesialis urologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Pasar Paloh, Padang Tiji.
Adapun jajaran pejuang kesehatan lainnya yang terlibat adalah Khairul Fajri, SKM, MKM, perwakilan dari Balai Kekarantinaan Kesehatan Banda Aceh yang berasal dari Mali Lamkuta, Kecamatan Sakti. Kemudian drg Apriliadi Saputra asal Garot, Kecamatan Delima yang mewakili PDGI Provinsi Aceh, serta tenaga gizi Devita Annisa, AMd, Gz yang berasal dari Keumangan Cut, Kecamatan Mutiara.
Tim juga diperkuat oleh para perawat, yakni Muhammad, AMd Kep asal Teumpeun, Kecamatan Kembang Tanjong, Gunawan Fadly, AMd Kep asal Cot Kuthang, Kecamatan Mutiara Timur dan Atinah, AMd Kep asal Bunien, Simpang Tiga. Dalam menjalankan tugasnya, tim didampingi oleh Lismawati, SKM, MKM dari Dinas Kesehatan Gayo Lues.
Dampak dan Tantangan
Kehadiran Tim TCK ini bak oase bagi warga pedalaman. Tercatat sebanyak 161 pasien berhasil ditangani dengan berbagai layanan kesehatan, mulai dari poliklinik umum, kesehatan gigi dan mulut, hingga tindakan medis sederhana. Tak hanya menunggu di posko, tim juga melakukan kunjungan rumah (home visit) untuk memantau anak dengan kondisi stunting dan gizi kurang.
Fokus pelayanan juga mencakup imunisasi tambahan Campak-Rubela (MR). Dari target 30 anak usia 9–59 bulan, sebanyak 28 anak berhasil diimunisasi, ditambah delapan anak dari kelompok usia sekolah (5–15 tahun). Selain pengobatan fisik, tim sangat memperhatikan faktor lingkungan guna mencegah penyakit tular vektor dan water borne disease.
Perjuangan dan Solidaritas
Perjuangan tujuh putra-putri Pidie ini tidaklah mudah. Khairul Fajri yang juga ASN di Balai Kekarantinaan Kelas 1 Banda Aceh, mengungkapkan bahwa mereka harus berhadapan dengan realita sulit di wilayah pedalaman. “Keterbatasan alat pemeriksaan, stok obat yang kian menipis, jaringan telekomunikasi yang buruk, hingga akses jalan yang terputus dan rawan longsor menjadi kendala harian. Namun, semangat pengabdian tetap menjadi motivasi utama kami,” ungkap Khairul.
Di tengah dinginnya Negeri Seribu Bukit dan duka akibat banjir, rasa persaudaraan tim ini tetap hangat. Bahkan, kehadiran "Kerupuk Mulieng" khas Pidie di dapur relawan menjadi simbol penyemangat yang mempererat solidaritas mereka dalam memberikan pelayanan terbaik bagi sesama. Kehadiran tim ini menjadi bukti nyata dukungan terhadap program nasional Kemenkes RI dalam memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah tersulit di Aceh.
