Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Meugang di Pengungsian: Tradisi Syukur Bertemu Realita Pahit Warga Aceh

18 Februari 2026 14:25

Tradisi meugang di Aceh, yang seharusnya menjadi momen syukur dan kebersamaan, kini dihadapkan pada realitas pahit warga pengungsian pascabencana. Ribuan warga masih tinggal di tenda darurat, sementara harga daging melonjak hingga Rp200.000 per kilogram, membuat tradisi ini semakin sulit diakses secara layak.

Pemerintah daerah berupaya mengatasi tantangan ini melalui pasar murah, seperti di Banda Aceh yang menawarkan daging dengan harga Rp140.000 per kilogram. Namun, bagi warga pengungsian, pasar murah saja tidak cukup tanpa dukungan lain seperti hunian layak, pekerjaan, dan akses ekonomi yang stabil.

Realitas Pengungsian

  • Lebih dari 155 ribu jiwa masih tinggal di ratusan titik pengungsian di berbagai kabupaten/kota di Aceh.
  • Warga pengungsi di Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Aceh Utara, memasak daging bantuan NGO di dapur bersama di tenda hunian darurat.
  • Banyak warga kehilangan akses ekonomi setelah menjadi pengungsi, membuat pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari menjadi perjuangan.

Tantangan Ekonomi

  • Harga daging meugang melonjak hingga Rp200.000 per kilogram, membebani ekonomi keluarga yang sudah terdampak bencana.
  • Proses pemulihan ekonomi masih berjalan lamban, sementara hunian tetap belum tersedia untuk seluruh warga yang terdampak.

Makna Meugang

Meugang bukan hanya tentang memasak dan menyantap daging, tetapi juga simbol solidaritas, rasa syukur bersama, dan kebahagiaan yang dibagi kepada sesama. Namun, ketika tradisi ini hanya tinggal simbol di atas kertas, karena kenyataan sosial yang keras, makna sejati meugang menjadi terganggu. Di titik inilah masyarakat perlu bertanya: Apakah nilai kemanusiaan yang terkandung dalam tradisi ini benar-benar dijalankan, ataukah hanya rutinitas ritual yang dipenuhi formalitas tanpa kepedulian nyata?

Meugang di Pengungsian: Tradisi Syukur Bertemu Realita Pahit Warga Aceh
0123456789