Timeline Aceh
ajnn.net
ajnn.net

Virus Nipah Terdeteksi di Satwa Liar Aceh, Risiko Penularan Tinggi

01 Februari 2026 15:30

Peneliti Ungkap Virus Nipah Terdeteksi di Indonesia

JAKARTA - Kasus virus Nipah ternyata pernah terdeteksi pada hewan di Indonesia. Hal itu diungkap Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Invoasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti.

Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan penambahan dua kasus infeksi virus Nipah di India. Kasus tersebut dialami oleh petugas kesehatan di rumah sakit swasta yang sama di Barasat, distrik North 24 Parganas.

Pasien pertama merupakan perempuan berusia 25 tahun, sedangkan pasien kedua adalah laki-laki dengan usia yang sama, 25 tahun. Kasus ini terungkap setelah keduanya melakukan pemeriksaan di National Institute for Virology Pune pada tanggal 13 Januari 2026.

Selain dua pasien yang positif virus Nipah, terdapat penambahan tiga suspek yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain. Seluruhnya kini dirawat di rumah sakit di Beleghata, West Bengal.

Virus Nipah Terdeteksi di Indonesia

Niluh menjelaskan, virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang berpotensi memicu terjadinya wabah jika tidak diantisipasi dengan tepat. Virus ini termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus.

Kelelawar tersebut dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit dan berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia. Penularan virus Nipah ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia.

Meski begitu, hingga Ahad, 1 Februari 2026, belum ada catatan virus nipah menginfeksi masyarakat di Indonesia. Namun, bukan berarti virus tersebut tidak terdeteksi di Indonesia. Niluh mengatakan, sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah bahwa virus Nipah terdeteksi di satwa liar. Salah satunya studi serologis di Kalimantan Barat.

Studi tersebut menemukan adanya antibodi Nipah virus di sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.

“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” tuturnya, dikutip dari laman resmi BRIN.

Penelitian lanjutan juga menemukan bahwa virus serupa ditemukan di Pteropus hypomelanus yang berada di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Niluh memperingatkan, temuan tersebut tidak bisa dilihat sebelah mata. Sebab, kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah sangat mungkin terjadi.

Hal ini karena Indonesia memiliki keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, dan praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus. Di sisi lain, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.

“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” kata Niluh.

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di negara tetangga Indonesia, yakni Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, virus Nipah terus menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Niluh mengatakan, dampak virus Nipah terhadap kesehatan manusia sangat serius dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, virus Nipah perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan wabah yang memengaruhi kesehatan masyarakat, sosial, dan ekonomi.

Apalagi, hingga saat ini belum tersedia vaksin atau obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Ini artinya, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, sementara pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.

"BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia," jelas Niluh.

Pendekatan melalui One Health juga menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi virus Nipah. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam memantau serta mengendalikan penyakit zoonotik.

“Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi," ungkap Niluh.

Dia berharap, hasil riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging. Sebab, menurunya, penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman virus Nipah.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), virus Nipah memiliki masa inkubasi 4-14 hari. Setelah masa inkubasi, seseorang yang terinfeksi virus Nipah bakal menunjukkan beberapa gejala, seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan.

Gejala virus Nipah juga diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut. Jika pasien merasakan tanda dan gejala di atas, segera mengunjungi layanan medis untuk menerima pemeriksaan RT-PCR.

Virus Nipah Terdeteksi di Satwa Liar Aceh, Risiko Penularan Tinggi
0123456789