Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Warga Aceh Tamiang Masih Menunggu Huntap Tiga Bulan Pasca Banjir

4 jam yang lalu

Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada November 2025, banyak warga masih bertahan di tenda lusuh. Mereka menunggu kepastian pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). Di Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Ponirah (69) bersama anak dan cucunya masih tinggal di tenda yang ia dirikan di lahan kosong kawasan desanya. Rumah Ponirah hancur total saat banjir dan sejak itu mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak.

Ponirah mengaku harus bertahan setiap hari menghadapi panas matahari dan debu tebal di sekitar lokasi pengungsian. Situasi tersebut terasa semakin berat karena mereka juga menjalani ibadah puasa. Ponirah berharap pemerintah memberikan informasi yang jelas dan merata kepada warga yang belum mendapatkan kepastian bantuan.

Kondisi Pengungsi di Aceh Tamiang

  • Ponirah (69): Tinggal di tenda lusuh di Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, bersama anak dan cucunya. Rumahnya hancur total saat banjir.
  • Kampung Kota Lintang Bawah: Salah satu wilayah terdampak paling parah, banyak warga masih hidup dalam keterbatasan.
  • Janji Pemerintah: Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan pemerintah akan mempercepat penyelesaian huntara bagi warga terdampak di Aceh Tamiang.

Kebutuhan Mendesak

  • Hunian Tetap (Huntap): Bagi penyintas bencana, kehilangan rumah bukan hanya soal hilangnya bangunan fisik, tapi juga mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi keluarga.
  • Kualitas Huntap: Huntap yang dibangun harus aman dari risiko banjir berulang serta dilengkapi infrastruktur pendukung seperti akses jalan, air bersih, dan sanitasi.
  • Keberpihakan Pemerintah: Prioritas menghadirkan huntap bagi semua korban bencana merupakan bentuk keberpihakan nyata pemerintah kepada rakyatnya.

Harapan Warga

Warga berharap agar huntap dapat diterima oleh semua korban bencana secara adil dan merata, sehingga mereka memiliki tempat tinggal yang aman dan bermartabat. Bagi mereka, rumah bukan hanya sekadar bangunan tempat tinggal bersama keluarga, tapi juga menjadi harapan baru untuk memulai kembali kehidupan seperti sebelum bencana menerjang.

Warga Aceh Tamiang Masih Menunggu Huntap Tiga Bulan Pasca Banjir