News
Program Makan Bergizi Ramadan Dipertanyakan di Aceh: Target Anggaran vs Kearifan Lokal
22 Januari 2026 12:01
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan menuai kritik dari pengusaha asal Aceh, Dedi Lamra. Ia menyoroti bahwa skema pembagian makanan take away dinilai tidak peka terhadap konteks sosial dan budaya masyarakat Aceh, terutama dalam praktik ibadah dan kehidupan sosial selama bulan suci.
Dedi mengkritik kebijakan tersebut yang dianggap hanya mengejar target penyerapan anggaran atau menguntungkan segelintir pengusaha. Ia menekankan bahwa program nasional seambisius MBG tidak boleh dijalankan secara kaku dan harus menghormati kekhususan Aceh.
Kritik Terhadap Skema Take Away
- Dedi Lamra menyoroti bahwa skema take away dianggap kontraproduktif dengan semangat ibadah di Aceh yang menerapkan syariat Islam.
- Ia mengingatkan bahwa orientasi program tidak boleh bergeser dari misi kemanusiaan menjadi sekadar urusan laba.
- Dedi berpendapat bahwa bisnis seharusnya tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga keberkahan dan kemanfaatan sosial.
Desakan untuk Tinjau Ulang Kebijakan
- Dedi mendesak pemerintah pusat untuk segera meninjau ulang kebijakan distribusi MBG selama Ramadan, terutama di Aceh.
- Ia berharap pemerintah lebih sensitif terhadap nilai-nilai lokal agar program strategis ini tetap relevan dan tepat sasaran.
- Dedi menekankan bahwa dukungan yang tulus menuntut masukan yang realistis dan konstruktif agar pelaksanaan program tidak melenceng dari ruh awal kebijakan.
Ruh Awal Kebijakan
- Dedi mengingatkan bahwa ruh awal dari kebijakan Presiden adalah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
- Ia berharap program ini tidak menjadi ruang bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi.
- Dedi menekankan pentingnya menghormati kearifan lokal masyarakat Aceh dalam pelaksanaan program MBG.
Dedi Lamra berharap bahwa dengan meninjau ulang kebijakan, program MBG dapat berjalan dengan lebih baik dan sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak-anak tanpa mencederai nilai-nilai lokal masyarakat Aceh.
