Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Ramadhan di Aceh: Rahmat di Atas Lumpur, Angka Kemiskinan Masih 12,22%

12 Februari 2026 10:25

Ramadhan tahun ini tidak turun di atas hamparan yang lapang. Ia hadir di tanah yang masih lembap oleh jejak banjir, di halaman yang baru saja dibersihkan dari lumpur, di rumah-rumah yang belum sepenuhnya pulih dari derasnya air akhir 2025. Di beberapa gampong, garis cokelat masih membekas di dinding—tanda bahwa air pernah lebih tinggi dari harapan. Ada keluarga yang belum kembali ke hunian tetap. Ada yang menata ulang kehidupan dari sisa yang terselamatkan. Ada yang menyimpan letih dalam senyum, karena hidup memang tak pernah menunggu luka sembuh sepenuhnya. Bencana mungkin telah berlalu dari layar berita, tetapi belum berlalu dari kehidupan.

Di atas luka itu, angka-angka berdiri tanpa emosi. Tingkat kemiskinan masih 12,22 persen—sekitar 703 ribu jiwa. Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera dan masih termasuk 10 besar termiskin secara nasional. Di perdesaan, hampir satu dari tujuh warga hidup dalam keterbatasan. Lebih dari separuh tenaga kerja berada di sektor informal—tanpa kepastian pendapatan, tanpa perlindungan saat krisis datang.

Struktur Ekonomi dan Dampak Bencana

Struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor primer dan perdagangan kecil menjadikan Aceh rentan terhadap negative supply shock (guncangan sisi penawaran). Ketika sawah rusak dan distribusi tersendat, harga bergerak naik, daya beli (purchasing power) melemah, dan yang pertama kali terhimpit adalah mereka yang paling rapuh.

Ramadhan sebagai Rahmat

Ramadhan menyatukan rasa. Kita sahur dalam gelap yang sama, menahan lapar di siang yang sama, dan berbuka dalam syukur yang sama. Kaya dan miskin berada dalam satu pengalaman kolektif. Saf tarawih merapatkan bahu tanpa melihat status. Di sanalah sekat sosial mencair.

Solidaritas dan Modal Sosial

Pengalaman bersama ini menumbuhkan empati yang nyata. Orang yang berkecukupan merasakan, meski sesaat, getir yang menjadi keseharian mereka yang kekurangan. Solidaritas tumbuh bukan karena slogan, melainkan karena pengalaman. Dalam bahasa ekonomi pembangunan, social capital (modal sosial) menguat—dan itulah fondasi resilience (ketahanan) yang sering kali lebih kokoh daripada bantuan sesaat.

Zakat dan Sirkulasi Kekayaan

Islam tidak membiarkan empati berhenti sebagai rasa. Ia menjadikannya sistem distribusi. Al-Qur’an menegaskan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya (QS. Al-Hasyr: 7). Prinsip circulation of wealth (sirkulasi kekayaan) ini adalah fondasi keadilan. Zakat fitrah diwajibkan agar tidak ada yang menyambut Idul Fitri dalam kekurangan. Sedekah di bulan Ramadhan dijanjikan pahala hingga tujuh ratus kali lipat sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 261. Janji spiritual ini melahirkan dorongan sosial yang konkret. Inilah the multiplier effect of sedekah (efek pengganda sedekah). Harta yang keluar dari satu tangan tidak hilang; ia berputar, menghidupkan warung kecil, membiayai usaha mikro, dan memperkuat permintaan di lapisan bawah.

Ekonomi Akar Rumput

Menjelang berbuka, jalanan Aceh menjadi ruang ekonomi rakyat kecil. Penjaja kolak, gorengan, bubur kanji, dan minuman sederhana berjejer. Permintaan meningkat. Uang berpindah tangan lebih cepat. Aktivitas kecil ini memperkuat demand side (sisi permintaan) ekonomi lokal. Mereka yang terdampak banjir menemukan kembali celah penghasilan. Usaha mikro yang sempat redup perlahan menyala kembali. Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, ekonomi kecil bergerak—pelan, tetapi nyata.

Maqashid Al-Shariah dan Kearifan Lokal

Nilai maqashid al-shariah bekerja dalam diam. Penjagaan jiwa (hifz al-nafs) melalui pemenuhan kebutuhan dasar. Penjagaan harta (hifz al-mal) melalui distribusi yang adil. Penjagaan keturunan (hifz al-nasl) melalui martabat keluarga di hari raya. Ekonomi di sini bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan perwujudan keadilan yang dirasakan. Aceh memiliki kearifan yang menopang nilai itu. Meugang sebelum Ramadhan adalah simbol bahwa tak satu pun rumah dibiarkan kosong. Gotong royong dan musyawarah gampong menjaga agar tak ada yang berjalan sendiri. Prinsip “hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut” menegaskan bahwa agama dan adat menyatu, bukan hanya dalam ritual, tetapi dalam tanggung jawab sosial.

Solidaritas dan Ketahanan

Ibn Khaldun menyebut kekuatan masyarakat terletak pada ‘asabiyyah—solidaritas kolektif. Ketika kekayaan beredar luas dan kohesi terjaga, masyarakat memiliki daya tahan menghadapi krisis. Sebaliknya, ketika distribusi timpang dan akumulasi terkonsentrasi, kemunduran menjadi keniscayaan. Ramadhan memperkuat ‘asabiyyah itu bukan melalui retorika, tetapi melalui praktik berbagi yang nyata.

Pertanyaan Akhir

Aceh mungkin masih menyandang status termiskin di Sumatera. Luka bencana belum sepenuhnya sembuh. Namun Ramadhan menghadirkan energi moral yang mempercepat redistribusi, memperluas peredaran, dan menggerakkan ekonomi akar rumput. Dan di sanalah rahmat itu bekerja. Di atas tanah yang masih menyimpan bekas air bah, Ramadhan menanamkan benih keadilan. Benih itu tumbuh melalui sedekah yang mengalir, melalui solidaritas yang tak padam, melalui harta yang beredar lebih luas daripada penumpukan. Ketika harta bergerak, daya beli menguat. Ketika empati hidup, ketimpangan melemah. Ketika nilai ditegakkan, fondasi diperkuat.

Kebangkitan tidak selalu dimulai dari grafik makro atau angka pertumbuhan. Ia sering dimulai dari gerak sunyi—dari tangan yang memberi, dari hati yang peduli, dari pasar kecil yang kembali ramai menjelang berbuka. Namun di titik inilah pertanyaan itu layak kita ajukan dengan jujur. Jika Ramadhan yang kita jalani berulang setiap tahun mengajarkan empati, distribusi, dan keadilan; jika ia menjanjikan rahmat dan melipatgandakan pahala sedekah hingga tujuh ratus kali; jika ia disebut melahirkan individu bertakwa—yang seharusnya menjadi aktor ekonomi pejuang kesejahteraan berkeadilan—mengapa hidup kita belum banyak berubah? Mengapa kemiskinan masih bertahan? Mengapa setiap krisis selalu terasa lebih berat di pundak yang sama?

Mungkin yang kurang bukan ritualnya, melainkan keberanian menjadikan nilai sebagai sistem. Takwa seharusnya menjelma menjadi integritas dalam jabatan, kejujuran dalam pasar, dan keberpihakan dalam kebijakan. Tanpa keberanian struktural itu, rahmat akan terus hadir sebagai potensi—bukan transformasi.

Ramadhan dalam serpihan bencana bukanlah ironi. Ia adalah cahaya yang menyelinap di antara retakan—menguatkan, menata ulang keseimbangan, dan mengingatkan bahwa di tengah ekonomi yang ringkih, rahmat yang bekerja adalah awal dari ketahanan yang lebih kokoh dan bermartabat. Marhaban ya Ramadhan 1447H. Semoga keberkahan Ramadhan tidak hanya kita rasakan, tetapi kita wujudkan.

Ramadhan di Aceh: Rahmat di Atas Lumpur, Angka Kemiskinan Masih 12,22%
0123456789