Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Kandidat Rektor UIN Ar-Raniry Aceh Harapkan Terobosan untuk Lulusan Kompeten

2 jam yang lalu

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan Dayah Manyang Pante Kulu merupakan tiga lembaga pendidikan tinggi yang didirikan sebagai resolusi konflik panjang antara Aceh dan Jakarta (DI/TII 1953-1962). Kampus Darussalam, yang didirikan pada tahun 1959, diharapkan mampu melahirkan generasi baru Aceh yang mengisi kemerdekaan dan meninggalkan senjata dalam perjuangan. Julukan Jantong Hate mencerminkan harapan besar rakyat Aceh akan kemajuan melalui pendidikan.

Namun, setelah 67 tahun berdiri, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Lulusan UIN Ar-Raniry, terutama, masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Angka serapan tenaga kerja dari alumni sangat rendah, dan banyak yang merasa bahwa pemimpin kampus tidak peduli dengan nasib alumni setelah wisuda.

Tantangan dan Harapan

  • Serapan Tenaga Kerja: Lulusan UIN Ar-Raniry masih kalah dalam persaingan kerja setelah tamat. Banyak alumni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan background pendidikan mereka.
  • Kepemimpinan Baru: Saat ini, UIN Ar-Raniry sedang dalam proses pergantian kepemimpinan. Empat nama kandidat rektor telah mendaftar sebagai calon suksesor, yaitu Prof Muhammad Siddiq Armia PhD, Prof Dr Saifullah MAg, Prof Dr Inayatillah MAg, dan Prof Dr Mujiburrahman MAg.
  • Harapan Masyarakat: Banyak pihak mengharapkan terjadi perubahan pada kepemimpinan UIN Ar-Raniry ke depan, termasuk kerinduan munculnya sosok Rektor UIN Ar-Raniry yang bervisi internasional.
  • Kepemimpinan Moral: Akademisi UIN Ar-Raniry Prof Azharsyah Ibrahim berpandangan bahwa pemimpin kampus harus mempunyai kepemimpinan moral, berupa disiplin, jujur, dan menjadi contoh teladan (lead by example).

Inovasi dan Transparansi

  • Kurikulum dan Pembelajaran: Kurikulum mesti direview agar sesuai dengan tuntutan pasar sehingga alumni cepat terserap setelah wisuda. Proses pembelajaran masih tampak kaku, hanya terbatas dari kelas ke kelas, belum ada keberanian mencoba inovasi baru seperti memperbanyak belajar di lapangan.
  • Transparansi Informasi: Informasi mengenai beasiswa, program student exchange, dan penyaluran dana Islamic Trust Fund mesti dipublikasi melalui berbagai saluran sehingga tidak ada mahasiswa yang mempunyai alasan tidak mengetahuinya.
  • Penguatan Kapasitas Dosen: Dosen yang masih sempit wawasan mesti diupgrade dengan cara mempertemukan mereka dalam kelas workshop dengan akademisi nasional dan internasional.

Harapan ke Depan

Alumni dan masyarakat Aceh mendambakan lahirnya nakhoda baru di UIN Ar-Raniry yang mampu melakukan terobosan dan inovasi ke arah positif sehingga lahir lulusan yang kompeten dan memiliki daya saing tinggi setelah tamat kuliah. Keempat kandidat Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030 mesti menyusun agenda pembaharuan yang berpihak pada kepentingan seluruh mahasiswa, bukan capaian di "atas kertas" dan "maya" untuk tujuan pencitraan semata.

Kandidat Rektor UIN Ar-Raniry Aceh Harapkan Terobosan untuk Lulusan Kompeten