News
Ekonomi Aceh Tumbuh 4,82% Tapi Pendapatan Warga Stagnan, Begini Solusinya
16 Februari 2026 17:36
Ekonomi Aceh tumbuh 4,82% secara tahunan pada triwulan II 2025, tetapi pendapatan regional berpotensi stagnan. Analisis neoklasik menunjukkan ketidakseimbangan struktural di tiga pasar: barang, tenaga kerja, dan keuangan.
Pasar Barang
- Ekspor dominan: 64,43% dari PDRB, tetapi impor juga tinggi (69%).
- Sektor pertanian: Penyumbang terbesar PDRB (31,52%), tetapi nilai tambah rendah.
- Investasi: Terbesar di sektor perdagangan (55,2%), bukan industri pengolahan.
- Belanja pemerintah: Kontraksi konsumsi (-9,40%) dan PMTB (-2,13%).
Pasar Tenaga Kerja
- Paradoks: Tingkat partisipasi tinggi, tetapi penciptaan lapangan kerja berkualitas lambat.
- Kesenjangan pendidikan: TPT lulusan SMA/SMK lebih tinggi dibanding SD.
- Produktivitas rendah: Sektor pertanian menyerap tenaga kerja dengan produktivitas marjinal rendah.
Pasar Keuangan
- Investasi: Rp7,75 triliun, tumbuh 99%, tetapi alokasi tidak optimal.
- Sektor tradable: Hanya 5,88% investasi di industri pengolahan.
- Belanja transfer: Turun 5,83%, Dana Desa dan DAK Fisik menciut.
Rekomendasi
- Pemerintah: Tingkatkan belanja modal, intervensi pasar tenaga kerja, dan alokasi investasi efisien.
- Edukasi: Vokasi terintegrasi dengan sektor investasi.
- Keuangan: Instrumen keuangan daerah untuk proyek hilirisasi komoditas.
Kesimpulannya, Aceh perlu beralih dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang jadi dan merangsang kapasitas produksi melalui belanja modal.
