News
Sabang Ubah 65% Sampah Organik Jadi Kompos, TPA Lhok Batee Kritis
2 hari yang lalu
Kota Sabang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Volume sampah rumah tangga mencapai 4.680 ton pada 2025, dengan rata-rata 13 ton sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap hari. Ironisnya, 65% sampah di Sabang merupakan sampah organik yang sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
TPA Lhok Batee di Gampong Cot Abeuk kini memasuki kondisi kritis. Kapasitas tampung sampah telah melebihi batas, sehingga pengelola harus melakukan rekayasa teknis agar lokasi tersebut masih bisa digunakan hingga 2026 - 2027. Jika timbunan sampah makin tinggi, risiko longsor sampah bisa mengancam keselamatan pekerja.
Solusi Pengelolaan Sampah
-
Pemilahan dan Pengolahan Terpadu: DLHK menargetkan mulai 2026 Sabang tidak lagi hanya membuang sampah ke TPA, tetapi mengelolanya melalui sistem pemilahan dan pengolahan terpadu.
-
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST): Pemerintah berharap TPST dapat mulai dibangun pada 2026 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
-
Pengolahan Sampah Organik di Rumah Tangga: DLHK mendorong masyarakat untuk mengelola sampah organik dari rumah, seperti membuat kompos, lubang biopori, budidaya maggot, dan eco-enzyme.
Manfaat Pengolahan Sampah Organik
-
Mengurangi Beban TPA: Jika masyarakat mengelola sampah organik dari rumah, volume sampah yang harus diangkut ke TPA akan turun signifikan.
-
Nilai Ekonomis: Kompos dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman atau dijual dalam skala kecil. Maggot juga memiliki nilai jual sebagai pakan ikan dan unggas.
-
Lingkungan yang Lebih Bersih: Gerakan bersih sampah tidak hanya berhenti pada aksi gotong royong, tetapi menjadi perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
DLHK berharap masyarakat Sabang mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah. Dengan demikian, beban TPA berkurang dan kota Sabang bisa benar-benar menjadi ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
