News
Inovasi Baterai Ramah Lingkungan dari UIN Ar-Raniry Aceh Tingkatkan Kapasitas Energi 22,73%
2 hari yang lalu
Tim peneliti dari UIN Ar-Raniry di Banda Aceh berhasil mengembangkan material anoda baterai yang mampu menyimpan energi 22,73% lebih tinggi dari grafit komersial. Inovasi ini menggunakan ekstrak tumbuhan sebagai agen reduksi dan stabilisasi nanopartikel, menjadikannya lebih ramah lingkungan dibandingkan metode sintesis kimia berbahaya.
Dr. Abd Mujahid Hamdan dan timnya membuktikan bahwa teknologi berkelas dunia dapat lahir dari pendekatan yang berakar pada kearifan lokal. Kolaborasi dengan ITB, BRIN, dan Universitas Negeri Surakarta memperkuat riset ini, menjadikannya simfoni kebangsaan yang dimainkan oleh para peneliti muda Indonesia.
Potensi dan Tantangan
- Kapasitas Energi: Material anoda baru ini memiliki efisiensi coulombic hampir sempurna, mencapai 99%.
- Keberlanjutan: Proses green synthesis menggunakan ekstrak tumbuhan, mengurangi dampak lingkungan.
- Kolaborasi Nasional: Riset ini didukung oleh berbagai institusi nasional, termasuk Kementerian ESDM dan Kemenperin.
- Tantangan: Optimasi material, pengujian performa jangka panjang, dan eskalasi produksi masih perlu dilakukan.
Inovasi ini tidak hanya tentang prestasi kampus, tetapi juga berpotensi menjadi pintu masuk strategis bagi Indonesia dalam industri baterai global. Dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia dapat mengubah nikel oksida menjadi material anoda berperforma tinggi melalui proses ramah lingkungan.
Pemerintah Indonesia sendiri tengah gencar mendorong ekosistem baterai EV, dengan target menjadikan Indonesia hub material baterai global pada 2024-2025. Riset UIN Ar-Raniry menawarkan nilai tambah yang signifikan, mengubah Indonesia dari pemasok mentah menjadi produsen inovatif.
Dengan pendanaan Rp5 miliar dari MORA The AIR Fund untuk tiga tahun, dan lolosnya dua tim lain di Program Riset Indonesia Bangkit 2026 dengan total dana Rp850 juta, UIN Ar-Raniry membuktikan bahwa perguruan tinggi negeri dapat menjadi mesin inovasi.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menyebut ini sebagai "sinergi kebijakan dan riset". Inovasi dari Banda Aceh ini adalah bukti bahwa Islam, sains, dan sustainability dapat berjalan beriringan, menawarkan solusi energi yang hijau, lokal, dan sangat Indonesia.
