Syarifah, seorang perempuan berusia 81 tahun, dan keluarganya terpaksa tinggal di tenda usai banjir bandang meluluhlantakkan rumahnya di Desa Bukit Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Mereka menghadapi berbagai kesulitan seperti hujan yang masuk ke tenda, kekurangan air bersih, dan ketidakpastian akan bantuan pemerintah.
Syarifah dan keluarganya, termasuk anaknya yang berstatus janda dan cucu berusia empat tahun, berbagi ruang sempit di dalam tenda. Mereka sering kali berbagi angin yang masuk ke dalam tenda melalui "pintu" berbahan kain sembari meringkuk di atas selembar matras tipis. Syarifah berharap mendapatkan hunian layak agar tidak lagi was-was dengan kondisi lingkungan yang tidak aman.
Kondisi Hidup di Tenda
- Tenda rentan terhadap hujan dan angin, membuat Syarifah dan keluarganya sering kali basah dan kedinginan.
- Kekurangan air bersih, memaksa anak perempuannya berjalan jauh ke surau untuk mendapatkan air.
- Ketidakpastian akan bantuan pemerintah, membuat mereka hidup dalam ketidakpastian.
Harapan Syarifah
- Hunian layak agar tidak lagi was-was dengan kondisi lingkungan yang tidak aman.
- Bantuan lauk pauk dan jatah hidup (Jadup) untuk memenuhi kebutuhan dasar.
- Program pemulihan ekonomi untuk membantu mereka bangkit dari bencana.
Pada April 2026, Syarifah dan keluarganya akhirnya direlokasi ke hunian sementara (Huntara). Walaupun kondisinya jauh dari kata sempurna, setidaknya dinding huntara tak lagi rentan seperti ketika mereka hidup di tenda. Terlebih angin dan hujan kini tak lagi menyergap tubuhnya yang renta.
Baca Sumber Asli
Ingin memverifikasi informasi lebih lanjut?

