News
Simposium Pemulihan Aceh: Banjir dan Longsor Tak Hanya Kerusakan Fisik
15 Februari 2026 23:20
Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dr. Ir. Indra Iskandar, M.Si., M.I.Kom., menekankan bahwa bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh sejak akhir November hingga awal Desember 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga membuka persoalan struktural yang harus dijawab dengan visi jangka panjang. Hal itu disampaikan Indra Iskandar saat memberi sambutan dalam Simposium Pemulihan Pasca Bencana Banjir dan Longsor Aceh di Gedung Nusantara DPR RI Senayan, Jakarta, Minggu, 15 Februari 2026.
Simposium ini menyoroti kerusakan pada 2.507 titik jalan dan 599 jembatan, yang menjadi tantangan serius bagi pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat. Di sejumlah wilayah seperti Aceh Utara dan Aceh Tengah, masyarakat masih menghadapi keterisolasian akibat belum pulihnya jalur utama penghubung antarwilayah.
Kerusakan Fisik dan Struktural
- Kerusakan pada 2.507 titik jalan dan 599 jembatan
- Keterisolasian masyarakat di Aceh Utara dan Aceh Tengah
- Perencanaan tata ruang berbasis mitigasi diperlukan
Dimensi Ekologis
- Degradasi hutan di wilayah hulu dan alih fungsi lahan memperparah risiko banjir bandang
- Kerusakan kawasan hulu seperti Taman Nasional Gunung Leuser dan Hutan Ulu Masen akibat ekspansi sawit dan HTI
- Kegagalan tata kelola lingkungan dan perlindungan kawasan hulu
Kesenjangan Komunikasi
- Skala bencana tidak direspons secara proporsional
- Kemarahan publik di media sosial menjadi 'mahkamah rakyat'
- Kedaulatan hutan Aceh terancam oleh kebijakan tata ruang yang permisif terhadap korporasi ekstraktif
Simposium ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan Aceh sebagai pembicara utama dan penanggap, di antaranya Sofyan A. Djalil, Safrizal ZA, Safuadi, Abdul Latief, dan Mustafa Abubakar. Dipandu oleh Teuku Taufiqulhadi.
