News
Siswa SDN 9 Kebayakan Bangkit Lewat Didong dan Tarian Gayo Pasca Bencana
30 Januari 2026 22:03
Siswa SDN 9 Kebayakan, Aceh Tengah, menerima pendampingan psikososial dari relawan GEN-A dan MIT Foundation melalui metode bermain dan bercerita. Kegiatan ini menggunakan budaya lokal seperti Didong dan tarian Gayo untuk membantu anak-anak merasa aman dan dihargai pasca bencana.
Didong dipimpin oleh Fathan, siswa kelas 2 SD, bersama 13 teman sebayanya. Mereka melantunkan syair-syair sederhana yang mencerminkan kebersamaan dan semangat bangkit. Tarian Gayo dipersembahkan oleh 4 siswi kelas 5 dan 6.
Pendekatan Budaya Lokal
- Didong dan Tarian Gayo: Anak-anak belajar sendiri dan mengaku saling mengingatkan syair.
- Pendampingan Psikososial: Melalui seni, gerak, dan permainan, anak-anak menemukan cara bercerita yang aman.
- Kebersamaan dan Semangat Bangkit: Anak-anak merasa aman, didengar, dan dihargai.
Pendekatan Berbasis Budaya
- Kenyamanan dan Identitas: Pendekatan berbasis budaya lokal membuat anak lebih nyaman dan terhubung dengan identitasnya sendiri.
- Rasa Percaya Diri dan Kebersamaan: Membangun kembali rasa percaya diri dan kebersamaan di lingkungan sekolah setelah mengalami situasi darurat.
Pendekatan Edukasi dan Spiritual
- Doa–Ikhtiar–Tawakkal–Tawadhu: Anak-anak diajak memahami nilai-nilai spiritual yang akrab dengan keseharian mereka.
- Kesedihan dan Musibah: Anak-anak diajak memahami bahwa kesedihan dan musibah bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari ujian kehidupan.
Kolaborasi dan Dukungan
- Relawan Mahasiswa KKN: Mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kebayakan turut berperan aktif mendampingi anak-anak.
- MIT Foundation dan GEN-A: Kolaborasi antara relawan komunitas, mahasiswa, dan organisasi kemanusiaan mempercepat proses pemulihan sosial di tingkat akar rumput.
Melalui pendampingan psikososial berbasis budaya ini, GEN-A dan MIT Foundation berharap sekolah kembali menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan pulih bersama. Di Kebayakan, lantunan Didong dan gerak tarian Gayo hari itu menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh dari suara dan langkah anak-anak sendiri.
