Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Alumni Malaysia Salurkan 5 Ton Beras untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

4 hari yang lalu

Banjir yang melanda Aceh pada akhir November 2025 masih meninggalkan luka panjang. Rumah-rumah rusak, lumpur menumpuk, dan banyak warga kehilangan mata pencaharian. Di tengah kesulitan ini, bantuan datang dari seberang Selat Malaka.

Sebanyak 26 Alumni Seri Temenggong (AST) dari Johor Bahru, Malaysia, tiba di Aceh untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Rombongan yang terdiri dari guru dan dosen ini membawa 5 ton beras dan santunan untuk anak yatim. Bantuan disalurkan ke titik-titik banjir terparah di Aceh Tamiang, Aceh Utara, hingga Banda Aceh.

Perjalanan Kemanusiaan

  • Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang: Rumah-rumah masih rusak dan belum tersentuh perbaikan. Bantuan diserahkan kepada pengungsi di hunian sementara.
  • Pesantren Darul Mukhlisin: Kompleks pesantren yang pernah diterjang banjir besar masih berusaha pulih. Bantuan diberikan langsung kepada pimpinan pesantren.
  • Sekolah At-Tayibi Kampung Durian: Rombongan berbuka puasa bersama 130 anak yatim dan santri tahfiz. Suasana haru terasa saat santunan diserahkan.
  • Panti Anak Yatim Raudhatul Huda: Bantuan dan santunan diserahkan kepada pengurus panti di Matang Ceubrek, Aceh Utara.
  • Desa Lapang: Sepuluh rumah hilang tersapu arus sungai. Bantuan diberikan kepada warga melalui posko pengungsian.
  • Desa Geudumbak: Huntara dibangun dari kayu-kayu hanyut sisa banjir. Bantuan disalurkan sebagai dukungan moral bagi warga.
  • Rumoh Rayeuk Langkahan: Masyarakat kesulitan memulihkan ekonomi karena kebun dan sawah tertutup lumpur. Bantuan menjadi energi moral bagi warga.

Refleksi dan Solidaritas

Rombongan juga mengunjungi situs sejarah tsunami di Banda Aceh, seperti Museum Tsunami Aceh dan Kapal di Atas Rumah. Mereka mendapatkan gambaran nyata tentang dahsyatnya bencana yang pernah melanda Aceh tahun 2004.

Kehadiran Alumni Seri Temenggong di tengah korban banjir menjadi bukti bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara. 5 ton beras dan santunan mungkin akan habis terbagi, tetapi kepedulian yang mereka hadirkan menjelma menjadi energi moral bagi masyarakat untuk kembali menata hidup.

Di tengah keterbatasan dan duka, bantuan ini tumbuh menjadi harapan sunyi, tetapi menguatkan. Aceh pernah berdiri tegar setelah diterpa tsunami 2004, dan sejarah itu mengajarkan bahwa daerah ini tidak pernah benar-benar kalah oleh bencana. Dengan kebersamaan dan kepedulian seperti yang ditunjukkan rombongan AST, keyakinan untuk bangkit kembali dari banjir kian menemukan pijakannya.

Alumni Malaysia Salurkan 5 Ton Beras untuk Korban Banjir Aceh Tamiang