News
Ratusan Pemuda Solo Hentak Ratoh Jaroe, Cinta Budaya Aceh Berkembang
20 Februari 2026 09:32
Ratusan pemuda di Surakarta, Jawa Tengah, menampilkan tari Ratoh Jaroe dalam sebuah perhelatan besar di atrium Neo Solo Grand Mall. Acara yang digelar pada Sabtu, 8 Februari 2026, ini menampilkan lebih dari 320 peserta dari 21 tim tingkat SMP dan SMA sederajat. Kebanyakan peserta bukan berasal dari Aceh, namun mampu menampilkan gerak Ratoh Jaroe dengan kekompakan yang mengundang perhatian pengunjung pusat perbelanjaan.
Tari Ratoh Jaroe tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga energi kolektif yang menyatukan ratusan pemuda-pemudi dari berbagai sekolah di Jawa Tengah dalam satu ritme yang sama. Acara ini diinisiasi oleh Sanggar Aneuk Nanggroe Nusantara (SANSA) Community, yang telah membina murid, siswa, dan pemuda di Surakarta untuk belajar tari Ratoh Jaroe.
Semangat Gotong Royong dan Kebersamaan
- Meusapat Ratoh Jaroe Meuseraya: Tema yang diangkat mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam tarian.
- Lebih dari 30 lembaga pendidikan: Sejak dikenalkan oleh mahasiswa asal Aceh sekitar 2015, Ratoh Jaroe perlahan berkembang di Surakarta. Kini, lebih dari 30 lembaga pendidikan di wilayah Solo Raya menjadikan tarian tersebut sebagai kegiatan rutin.
- Flashmob massal: Puncak acara berlangsung saat flashmob massal yang melibatkan ratusan penari. Dalam satu komando, tangan-tangan bergerak serempak, menciptakan irama yang menggema dan mengundang decak kagum penonton.
Dampak Positif Tari Ratoh Jaroe
- Melatih fokus dan kekompakan: Ratoh Jaroe dinilai mampu melatih fokus, kekompakan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.
- Pengalaman budaya: Bagi para peserta, Ratoh Jaroe bukan sekadar lomba, melainkan pengalaman budaya yang mempertemukan mereka dengan tradisi dari wilayah yang jauh.
- Jembatan kebudayaan: Hasanul Muttaqin, pendiri Komunitas Sansa, menyatakan bahwa Ratoh Jaroe menjadi jembatan kebudayaan yang menyatukan banyak daerah.
Dengan semangat anak-anak muda di Solo, Ratoh Jaroe hidup dan berkembang di luar Aceh. Acara ini menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki daya tarik universal dan mampu menyatukan generasi muda dalam satu irama kebersamaan.
