News
Warga Aceh Utara Masih Bertahan di Pengungsian, Lumpur Tebal Belum Bersih
25 Januari 2026 21:07
Dua bulan setelah banjir bandang melanda Aceh Utara, ribuan warga di Kecamatan Langkahan dan Tanah Jambo Aye masih bertahan di pengungsian. Penyebabnya adalah lumpur tebal yang mengendap di rumah-rumah mereka belum sepenuhnya bersih, membuat hunian tidak layak untuk ditempati.
Warga seperti Ismail dari Kecamatan Langkahan mengungkapkan kesulitan membersihkan lumpur yang sudah mengeras. Keterbatasan tenaga, alat, dan kondisi fisik memperlambat proses pembersihan. Meskipun sebagian warga mulai membersihkan rumah secara bertahap, mereka tetap harus kembali ke pengungsian karena kondisi rumah yang masih lembab dan berlumpur.
Kondisi Pascabanjir
- Lumpur tebal setinggi sekitar satu meter masih mengendap di permukiman penduduk di Dusun Tanah Merah, Gampong Lubok Pusaka.
- Keterbatasan tenaga dan alat membuat proses pembersihan berjalan lambat.
- Rumah rusak dan hilang mencapai sekitar 300 unit, dengan banyak rumah rusak berat.
- Keterbatasan listrik dan air bersih masih menjadi masalah bagi warga.
Bantuan Pemerintah
- Pemerintah pusat telah menyiapkan hunian sementara (Huntara) bagi korban banjir.
- Warga berharap hunian sementara segera bisa ditempati sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
- Pembersihan lumpur di sejumlah titik gampong telah dibantu menggunakan alat berat jenis ekskavator atau beko, namun bantuan tersebut belum menjangkau seluruh rumah.
Warga seperti Abdullah dari Dusun Bidari, Gampong Lubok Pusaka, mengungkapkan kondisi pascabanjir masih jauh dari normal. Meskipun bantuan pemerintah sudah mulai diberikan, warga masih menghadapi berbagai kesulitan dalam memulihkan kehidupan mereka setelah bencana.
Dengan kondisi yang masih sulit, warga Aceh Utara berharap pemulihan dapat segera dilakukan agar mereka bisa kembali ke rumah dan memulai kehidupan normal sebelum Ramadhan tiba.
Kondisi saat ini menunjukkan perlunya dukungan lebih lanjut dari berbagai pihak untuk mempercepat proses pemulihan dan pembersihan lumpur di Aceh Utara.
